Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Keuskupan Agung Merauke Prihatin Atas Aksi Terorisme ‘Bom’ di Katedral Makassar

Pastor Anselmus Amo, MSC
Pastor Anselmus Amo, MSCFoto / PAPUA
fajar Papua2 menit baca0 kali dibaca

Merauke, fajarpapua.com  Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke (SKP KAME) menyerukan keprihatinannya atas tindakan tak berperikemanusiaan sehubungan dengan peristiwa ledakan bom bunuh diri yang terjadi di gerbang Gereja Kathedral arah Jalan Kajolalido Makassar, Minggu (28/3).

Bom yang meledak sekitar pukul 10.26 Wita di gerbang gereja itu saat umat Kristiani merayakan Minggu Palma mengawali Pekan Suci itu, menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 14 orang lainnya luka-luka sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Seruan SKP KAME sejalan dengan Surat Edaran dari Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang mengecam keras aksi terorisme bom bunuh diri karena dinilai merendahkan martabat manusia itu sendiri.

Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan SKP KAME, Pastor Anselmus Amo mengatakan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) secara khusus Keuskupan Agung Merauke menyesalkan aksi terorisme bom bunuh diri yang terjadi di Makassar yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Gereja Katolik sejagat pada umumnya sangat menentang keras aksi tersebut.

“Kita prihatin dengan kejadian bom bunuh diri di Makassar. Kita berharap kejadian serupa ini tidak terjadi lagi kedepannya. Tentunya ini menjadi tugas berat kepolisian untuk mengungkap semuanya itu. Kita berdoa agar semua proses yang dilakukan dapat berjalan dengan baik,” ujar Pastor Anselmus ketika dihubungi fajarpapua.com melalui telepon selulernya.

Gereja Keuskupan Agung Merauke, lanjutnya, mengimbau agar setiap orang tetap waspada dan tidak terprovokasi dengan kejadian itu. Hal tersebut bukan merupakan konflik suku, agama ras dan kepercayaan, tetapi murni kejahatan kemanusiaan atau terorisme.

“Kalau kita mengecam juga dalam arti apa? Agama tidak mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita tidak perlu mengecam. Kita prihatin dan berharap supaya kejadian itu tidak terjadi lagi, entah di wilayah mana pun.

“Apalagi memasuki ini kan sudah Pekan Suci. Kita imbau setiap orang untuk tetap waspada dan tidak terpancing dengan isu-isu yang memecah belah kerukunan hidup antar umat beragama, isu-isu yang bernuansa konflik Sara. Kita mendukung pihak kepolisian untuk mengungkap pelaku dan memprosesnya secara baik, karena negara kita adalah negara hukum,” kata Pastor.

Dia mengajak umat Nasrani untuk tetap fokus  menjalankan ibadah di dalam Pekan Suci, yakni misteri wafat dan kebangkitan Tuhan.

“Kita tetap berdoa para pelaku untuk segera bertobat dan pihak kepolisian segera mengungkap kasus ini. Kita dukung semua pihak yang berbuat baik. Kita tetap berjaga-jaga karena kejahatan itu bisa datang kapan saja,” pesannya. (hrs)