Bupati Merauke Minta Jurnalis Pewarta PON; Pembawa Damai dan Kesejukan di Tanah Papua

by -
Bupati Merauke bersama Fokopimda menabuh Tifa pada Peresmian Media Center Kominfo
Bupati Merauke bersama Fokopimda menabuh Tifa pada Peresmian Media Center Kominfo

Merauke, fajarpapua – Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT selaku Ketua Umum Sub PB PON Merauke meminta para jurnalis (wartawan) di Merauke, Papua maupun nasional untuk mengedepankan pemberitaan yang mengandung kesejukan dan kedamaian perihal penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 khususnya di Klaster Merauke.


Mengingat profesi jurnalis adalah pewarta bukan pembawa petaka. Dalam menjalankan tugas-tugas kejurnalistikan, wartawan harus bertindak profesional dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

“Media center sudah jadi. Silahkan digunakan secara profesional dalam tugas-tugas jurnalis. Wartakan baik tentang PON XX Papua 2021 dan juga giat apa saja yang ada di Merauke dan tentang Kabupaten Merauke itu sendiri.

banner 300250


“Silahkan bernyanyi dengan kemampuan menulis anda sendiri baik performance penulisan sebagai pemberitaan maupun sebagai promosi segala hal yang ada di Merauke,” pesan Bupati Mbaraka kepada para awak media pada Peresmian Media Center PON XX Papua milik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di Jl. Mandala, Merauke, Kamis (30/9).


Bupati Merauke, Romanus Mbaraka kembali menegaskan pemberitaan terkait situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sebaiknya ditulis dengan bahasa yang mengandung kesejukan, tidak dengan bahasa dan kalimat bersifat provokatif (hasutan) yang dapat memicu konflik vertikal maupun horizontal di tengah masyarakat.

Peninjauan setiap ruangan media center
Peninjauan setiap ruangan media center


“Selaku kepala daerah, saya mengatasnamakan masyarakat Merauke meminta tidak boleh ada berita yang mengandung provokasi kepada masyarakat. Jadi tulisan bapak-ibu, adik-adik wartawan betul diperhatikan. Sehingga orang di Aceh dan daerah lain di Indonesia punya keyakinan bahwa Papua khususnya Merauke adalah bagian yang integral dengan Indonesia. Merauke, Papua itu tidak beda dengan orang-orang di Jakarta.

“Sekali lagi saya ingatkan, pemberitaan PON XX di Klaster Merauke supaya kode etik jurnalistik digunakan baik-baik. Saya bersama unsur Forkopimda terus mengawal itu, karena sejak nenek moyang kita di negeri ini telah mewariskan damai dan persahabatan bagi kita. Saya mewakili masyarakat meminta agar itu betul-betul diperhatikan. Kalau ada yang kurang di sini tolong beritahu kami,” ujarnya.


Bupati juga mengingatkan bahwa pekerjaan profesional jurnalis adalah jembatan persaudaraan di Nusantara dan seluruh dunia. Kesuksesan PON XX Papua dan pembangunan di Kabupaten Merauke juga tergantung pada informasi dan pemberitaan yang disampaikan oleh para jurnalis, karena para awak media ini ikut mengontrol keberlangsungannya.


“Boleh mengkritik apa saja. Tetapi kritik yang konstruktif (membangun). Saya kira ini permintaan dari saya. Silahkan gunakan media center ini dengan baik untuk menyampaikan informasi PON XX Papua dan pembangunan di Merauke. Ini akan menjadi cahaya dari Timur Indonesia dalam nuansa PON XX dan pernak-pernik di Selatan Papua. Insyallah, selesai PON semua orang pulang dari Merauke akan membawa cerita baik tentang Merauke dan Papua,” tandas Bupati Mbaraka. (hrs).

INFO IKLAN 0812-3406-8145 A valid URL was not provided.