Makna Bola Basket Bagi Seorang Lena

by -
Pelatih tim bola basket putri Jawa Timur, Lena yang membawa skuadnya meraih medali emas di PON XX Papua. (Michael Siahaan)
Pelatih tim bola basket putri Jawa Timur, Lena yang membawa skuadnya meraih medali emas di PON XX Papua. (Michael Siahaan)

Mimika, fajarpapua.com – “Iya, nama saya hanya itu, Lena,” ujar pelatih tim bola basket putri Jawa Timur di PON XX Papua, Lena, kepada pewarta yang bertanya penasaran, “Apakah namanya memang hanya satu kata?”.

Lena, satu-satunya pelatih kepala perempuan pada cabang olahraga bola basket PON Papua baik sektor putra maupun putri, tertawa melihat wajah heran para kuli tinta yang mengira namanya lebih panjang dari yang tertera di lembar statistik pertandingan.

Omong-omong, jarang sekali dia tampak riang seperti itu selama PON Papua. Saat mendampingi timnya berlaga dari tepi lapangan, paras Lena selalu serius nyaris tanpa senyum.

Sesekali, perempuan asal Bagansiapiapi, Riau, itu, berteriak memberikan instruksi. Lalu kembali diam, memikirkan strategi apa yang pas untuk menundukkan lawan.

Pengamatannya tajam. Jika Jawa Timur mengalami kesulitan, dengan cepat dia menemukan solusi. Pengalaman memang tak pernah berbohong. Medali emas PON XX Papua yang direbut timnya menjadi bukti.

Tak seperti namanya yang singkat, Lena memiliki jejak panjang di bola basket, khususnya di dunia bola basket Surabaya dan, lebih luas lagi, Jawa Timur.

Saat masih aktif bermain, Lena yang berposisi sebagai point guard memperkuat klub Sahabat Surabaya.

Setelah pensiun sebagai pebasket sekitar 20 tahun lalu, Lena hanya memiliki satu tujuan yaitu menjadi pelatih.

“Karena saya menyukai anak kecil, jadi saya memulai karier dari melatih anak-anak,” tutur Lena.

Ternyata, murid yang dilatihnya terus menunjukkan prestasi demi prestasi. Lena lalu dilibatkan sebagai pelatih di Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (Popwil), Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).

Selain itu, Lena juga menangani bola basket di beberapa sekolah di Surabaya, salah satunya adalah SMA St. Louis 1.

Ada beberapa pemain tim putri Jawa Timur di PON Papua berasal dari sekolah tersebut yaitu Elysia Kartika, Fransisca Inge, Julienna Hartono, Merissa Pangestu dan Christine Tjundawan.

Christine, anggota tim putri Jawa Timur di PON 2016 dan PON 2021, bahkan ditangani Lena sedari SMP.

Lena membawa tim putri SMA St. Louis 1 menjadi skuad yang disegani di liga bola basket pelajar, Developmental Basketball League (DBL) dengan meraih lima kali gelar juara pada tahun 2014-2019.

Catatan-catatan itulah yang membuat Lena dipercaya untuk membesut tim bola basket putri Jawa Timur di PON XX Papua. Sebuah kesempatan perdana bagi dirinya.

“Baru kali ini saya dipercaya memegang anak-anak di PON. Sebelumnya cuma jadi penonton,” kata juru taktik yang lahir pada 15 Februari 1979 itu.

Bak seorang ibu

Tim bola basket putri Jawa Timur memulai persiapan kurang lebih 1,5 tahun sebelum PON XX Papua dimulai.

Kondisi pandemi membuat mereka mesti dikarantina, hanya boleh keluar dari tempat menginap untuk latihan. Lena menyebut hal ini kerap menimbulkan rasa bosan di kalangan pemain. Namun, di sinilah dia memainkan peran lain di luar seorang pelatih.

BACA JUGA:  Pelaksanaan PON XX Papua Dinilai Aman dan Kondusif

Lantaran tak bisa bertemu keluarga, para pemain putri Jawa Timur tidak jarang menumpahkan keluh kesah mereka kepada Lena.

Lena menyambutnya dengan tangan terbuka dan selalu memberikan ruang untuk itu. Situasi demikian membuat pemain nyaman berada di dekatnya. Christine Tjundawan mengakuinya.

“Pelatih sudah seperti mama yang mengurus semua kepentingan kami termasuk makan. Kadang mungkin pelatih galak, tetapi itu bagus untuk pemain,” ujar Christine.

Bagi Lena sendiri, tim bola basket putri Jawa Timur sudah seperti keluarga. Mereka susah bersama, senang pun demikian.

Tidak ada yang tertinggal di belakang. Mereka berjalan berdampingan demi menggapai target medali emas PON Papua.

Sebagai sesama perempuan, Lena lebih mudah melakukan pendekatan kepada pemainnya.

Ikatan batin seperti itu membuat mereka tampil solid di PON Papua. Tanpa pernah tunduk dari lawan!

Di PON Papua, Jawa Timur dikenal sebagai tim yang agresif, terbukti dari 73 “steal” (curian bola) pada lima laga PON Papua, termasuk partai final. Jumlah itu tertinggi di bola basket putri PON Papua, bahkan jauh unggul dari pada steal terbanyak kedua milik Bali, 49.

Jawa Timur membuat total 305 poin pada PON Papua, yang terbanyak untuk putri di PON XX.

Serangan Jawa Timur didominasi di ruang dua poin lawan. Sebanyak 107 tembakan dua angka mereka, dari 214 percobaan, berhasil masuk ke ring lawan. Tidak ada tim putri yang bisa menyamai torehan itu kompetisi tersebut.

Puncaknya, tim putri Jawa Timur merengkuh medali emas PON XX Papua setelah menundukkan Bali pada laga final dengan skor 56-37 di Mimika Sport Complex, Mimika, Sabtu (9/10).

Prestasi itu sekaligus memperbaiki pencapaian Jawa Timur pada PON 2016 di mana mereka merebut medali perunggu dan merupakan prestasi tertinggi tim putri Jawa Timur di PON sejak 25 tahun lalu.

Torehan impresif tersebut tidak membuat Lena terbuai. Setelah PON Papua, dia menegaskan akan kembali ke pekerjaannya sebagai pelatih bola basket sekolah.

Akan tetapi, Lena menegaskan akan mempertimbangkan jika mendapat tawaran untuk melatih sebuah tim profesional.

Andai permintaan datang dan dia menerima, maka itu akan menjadi pengalaman pertamanya membesut klub non-amatir.

Bagi Lena, bola basket layaknya udara yang dia hirup setiap hari. Sebegitu pentingnya olahraga itu untuk kehidupannya.

Makanya, kala menuturkan tentang cita-cita dia di masa depan, Lena yang masih melajang itu menyampaikan begini.

“Saya ingin mendedikasikan diri saya untuk bola basket. Bola basket adalah kesenangan dan mata pencaharian saya”. (ant)
  

INFO IKLAN 0812-3406-8145 A valid URL was not provided.