Senjata Tajam Kujang, Tari Saman dan Wayase Dipentaskan di Seni Gerak Tarung Derajat

by -
Caption Foto : TAMPIL - Atlet Jabar saat tampil dalam pertandingan seni gerak di Venue Eme Neme Yauware, minggu (10/10). Foto : Frina Hutapea
Caption Foto : TAMPIL - Atlet Jabar saat tampil dalam pertandingan seni gerak di Venue Eme Neme Yauware, minggu (10/10). Foto : Frina Hutapea

TIMIKA – Pada hari ke-3 babak semi final Cabor Tarung Derajat PON XX Papua, di Venue Eme Neme Yauware, Minggu (10/10), sebanyak 5 provinsi menurunkan atlet terbaik mereka pada nomor seni gerak – gharang putera.

5 provinsi tersebut adalah Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY Aceh dan kontingen rumah Provinsi Papua.

Di nomor ini, Jawa Tengah menurunkan Deni Karya Nugroho dan Fabio Salfa Riscky. Sulawesi Selatan menurunkan Muhlis dan Nasram. Jawa Barat diwakili Hanhan Ramdani dan Muarif Hidayatulloh.

Provinsi Aceh diwakili oleh Muhhamad Iqbal dan Juanda sementara Papua menurunkan Muh. Nasrul dan Kaleb Hanueby.

Pada pementasan siang tadi, hampir tiap kontingen dari kelima daerah ini, memperagakan seni gerak dengan memaduhkan unsur tradisional dalam pertunjukan mereka.

Kontingen Aceh yang bermain sangat atraktif dan kompak, menunjukan keahlian bela diri mereka dengan memasukan unsur tarian suku Gayo di Aceh yakni tari Taman dalam teknik yang mereka peragakan.

Kontingen Papua juga tidak ketinggalan, sebelum memasuki fase penutupan atraksi mereka, goyangan kaki tiga atlet Papua ini bergoyang layaknya sedang melakukan yospan.

Sementara Jawa Barat tampil lebih sedikit ekstrim. Pasalnya di tengah aksi mereka, tiga atlet ini mengeluarkan Kujang, senjata tradisional Jawa Barat.

Mereka menggunakan senjata Kujang untuk saling menyerang. Walau demikian, tidak ada yang terluka dalam aksi ini.

Technical Delegate Tarung Derajat PON Papua, H. Noves Narayana mengatakan usai pertandingan, dalam seni tarung, ada tiga unsur yang dinilai.

Pertama, pembukaan yang dikreasikan dengan kearifan lokal dari setiap daerah yang sesuai dengan teknik tarung derajat. Unsur ini wajib ada.

Kedua, merupakan materi inti yaitu jurus ataupun materi seni gerak yang diperagakan saat melakukan penyerangan maupun bertahan.

“Dan ketiga adalah penutupan yang merupakan kreasi dari pada tim dan harus berbeda dengan tim atau kontingen lain,” ujarnya.

Turun di Tiga Nomor Seni Gerak, Atlet Jabar Berniat Bungkus Medali Emas

Hanhan Ramdani merupakan atlet Jawa Barat yang ikut bertanding di tiga nomor seni gerak dalam cabang olahraga Tarung Derajat PON XX.
Sejak 2019, ia sudah berlatih keras untuk tampil pada ajang ini.

“Yang paling kita latih adalah fisik dan teknik. Kalau melatih teknik ya kita rutin melatih seminggu dua kali. Misalnya pagi latihan fisik, sorenya khusus untuk teknik,”ujarnya.

Yang dilatih oleh Hanhan dan rekannya adalah kelenturan, teknik tendangan, bantingan dan teknik pukulan. Semuanya digabungkan dalam satu aksi.

BACA JUGA:  Polda Papua Siap Rekrut Atlet PON Berprestasi Yang Ingin Jadi Polisi

“Untuk pertandingan seni gerak hari ini (Minggu-red) kita tampil dengan membawa senjata khas Jawa Barat yaitu kujang. Hal ini dilakukan karena kami berdomisili di Jawa Barat sehingga kita ingin menunjukkan kepada provinsi lain bahwa Jabar juga memiliki senjata tradisional,”jelasnya.

Hanhan mengakui, alasan dia memilih seni gerak karena lebih tertarik pada seni gerak dibandingkan seni tarung. Sejak 2012, ia sudah terlibat mewakili Jawa Barat pada nomor ini.

“Kebetulan sekarang di PON XX, saya main di tiga nomor seni gerak. Dan saya ikut di tiga nomor. Hari ini saya tampil di gharang putera, besok saya bertanding di nomor campuran,”ujarnya.

Dalam tarung derajat ada empat seni gerak yaitu satu seni gerak getar putera (2 orang), gharang putera (3 orang) ranger puteri (3 orang) dan gerak tarung campuran 2 putera 2 puteri.

“Dalam seni gerak, tidak ada yang perlu dihindari. Karena akan tetap menerima kontak tetap kontak, pukul tetap pukul begitu juga dengan tendangan. Dan itu semua memiliki resiko. Namun semua itu sudah dilatih secara khusus sehingga tidak ada yang cedera saat beraksi,” paparnya.

Walau turun di 3 nomor gerak, pria berusia 25 tahun ini percaya bahwa ia akan meraih apa yang sudah menjadi targetnya. Apalagi pada PON XIX di Jawa Barat, ia berhasil meraih juara perak di seni gerak campuran.

“Tantangan di PON Papua lebih berat karena saya harus turun di tiga nomor dan hampir tiap hari bertanding. Jadi, harus jaga kondisi,” kata pria kelahiran Cimahi 12 Februari 1996 ini.

“Harapan terbesar saya adalah membalas juara 2 kemarin dengan meraih juara 1. Semoga saya bisa menyabet medali emas di tiga nomor yang saya ikuti yaitu gerak tarung putra, seni gerak gharang putra dan seni gerak campuran,”ungkapnya.

Sementara itu, Hardi, pelatih kontingen Tarung Derajat Jawa Barat mengatakan ia optimis para petarungnya dapat meraih emas untuk mengharumkan Jabar.

Di PON XX Papua di Timika, Jawa Barat hadir dengan 8 atlet terbaik mereka. 5 diantaranya merupakan laki-laki sementara 3 lainnya adalah wanita.

“Atlet kami 8 orang namun 2 sudah gugur dan menyisahkan 6 orang. Target kami sama dengan capaian kami di pra PON yakni 4 emas untuk PON XX Papua,” ujarnya optimis. (Humas PPM/ Frina Hutapea dan Ronald Renwarin).

INFO IKLAN 0812-3406-8145 A valid URL was not provided.