Perjuangan Suami Istri dan Wanita Pemancing Ikan, Secuil Kisah Dibalik Peresmian Kapela St Paulus Mayapura Pomako

by -
Para pelopor pembangunan Kapela St Paulus Mayapura Pomako.
Para pelopor pembangunan Kapela St Paulus Mayapura Pomako.

Timika, fajarpapua.com – Kapela St Paulus Mayapura Pomako yang merupakan tempat ibadah salah satu stasi dari Paroki Emanuel Mapurujaya pada Rabu (29/12) diresmikan. Kapela yang terletak di area jembatan 1 Pomako itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat.

Acara peresmian dimulai dengan penyambutan pastor dan tamu undangan dengan tarian seka kamoro, sekitar pukul 10.00 WIT.

Pemberkatan gedung Kapela dan pengguntingan pita dilakukan ketua dewan stasi, kemudian ibadah bersama yang dipimpin langsung pastor Paroki Emanuel Mapurujaya, Pater Petrus Fenyapwain, OFM.

Sebagaimana disaksikan fajarpapua.com, acara peresmian diikuti sekitar 300-an umat baik tamu undangan maupun warga Kamoro yang bermukim di seputaran kapela dan sebagian dari kampung Hiripauw.

Adapun sejarah singkat berdirinya Kapela St. Paulus Mayapura. Pada tahun 2012, sebagian warga asal wilayah Mapurujaya yakni Muare, Kaugapu, Hiripauw sampai ke Cenderawasih yang notabene warga suku Kamoro yang memiliki budaya hidup di pesisir secara perlahan-lahan datang ke daerah yang biasa disebut “Arwana” ini dan tinggal di situ.

Setiap hari minggu tiba, mereka tidak balik ke kampung untuk mengikuti ibadah di gereja. Ketika itu, Pius Tebay, selaku guru agama sempat datang ke wilayah itu mengajak mereka beribadah di alam terbuka di bawah lokasi tempat salah satu pengusaha asal Timika.

Seiring berjalannya waktu, Fredy Kekoroko bersama sang istri Agnes Fenanlampir mempunyai ide untuk mendirikan gubuk sederhana yang bisa menampung warga sekitar yang jumlahnya semakin banyak untuk beribadah.

Akhirnya didirikanlah sebuah bangunan sederhana beratap daun sagu dan konstruksi tiang kayu mangi-mangi.

Semakin lama makin banyak warga yang datang bergantian tinggal di lokasi itu. Suatu ketika pengusaha yang empunya area tersebut datang dan mengusir semua warga, yang tertinggal hanya Fredy dan Ibu Agnes sekeluarga.

Namun seiring berjalannya waktu, warga kembali lagi seperti semula, sementara bangunan gereja sudah mulai bocor.

Muncul ide dari Fredy dan ibu Agnes untuk membuat bangunan baru dengan atap daun seng. Namun karena keterbatasan keuangan, suatu ketika muncul ibu Yana Hemar yang biasa turun mancing ke pesisir. Mereka bersepakat untuk membangun sebuah bangunan tempat ibadah.

Dibantu Bosco Jeujanan dan beberapa pemuda asal Kei, pekerjaan bangunan dilakukan secara sukarela.

Setelah bangunan berdiri, Fredy dan ibu Agnes sekeluarga masih tetap berjuang keras dengan mencari ikan maupun menjual kayu bakar untuk membenahi kebutuhan dalam ruangan gereja.

Dianggap sudah layak, Fredy dan ibu Agnes meminta pastor paroki agar meresmikan bangunan tersebut.

Menurut Fredy selaku pemilik ulayat nama tempat itu bukan Arwana melainkan Mayapura.

Acara peresmian dihadiri dewan paroki Emanuel Mapurujaya, mewakili dari pemerintah kelurahan Wania Mapurujaya Benediktus Kareyau selaku sekretaris kelurahan, tokoh-tokoh adat asal Kamoro, para tukang dan warga sekitar.

Setelah ibadah dilanjutkan dengan serimonial makan bersama dan dihibur salah satu group band lokal dengan lagu-lagu Kamoro dan diakhiri seka bersama.(ana)

A valid URL was not provided.