BERITA UTAMAINTERNASIONAL

Pengunjuk Rasa Rusia: “Maafkan Kami” Ukraina

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
5
×

Pengunjuk Rasa Rusia: “Maafkan Kami” Ukraina

Share this article
Para demonstran berkumpul selama protes anti-perang setelah Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina, di Berlin, Jerman, Minggu (27/2/2022).
Para demonstran berkumpul selama protes anti-perang setelah Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina, di Berlin, Jerman, Minggu (27/2/2022).

Moskow, fajarpapua.com – Alexandra dan Anna, keduanya 27 tahun, bergabung dengan sejumlah warga Rusia di depan kedutaan Ukraina di Moskow pada Minggu.

Mereka berkumpul untuk menyuarakan rasa malu, kesedihan dan putus asa, atas invasi Rusia dan meminta maaf kepada rakyat Ukraina.

Ads

Kedua sahabat itu, yang menolak menyebut nama belakang mereka, yakin kerabat mereka telah diberangkatkan ke Ukraina bersama Garda Nasional Rusia setelah menjalani latihan di Krimea.

Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada 2014 dan memulai invasi besar-besaran ke negara tetangganya itu Kamis lalu (24/2), yang ditanggapi oleh Barat dengan sanksi keras.

“Saya menentang perang ini dan saya ingin itu dihentikan segera. Hati saya bersama rakyat Ukraina, kepada mereka yang telah gugur, menderita dan berada di zona konflik,” kata Alexandra yang bekerja di perhotelan.

Dia meletakkan bunga di seberang jalan, karena trotoar di depan kedutaan yang dipasangi barikade dan dijaga polisi. Beberapa peserta aksi menaruh tanda bertuliskan “Maafkan Kami” dan simbol hati dari kardus berwarna biru-kuning bendera Ukraina.

Semua benda-benda itu dibuang petugas setelah mereka bubar. Seorang polisi mengatakan kepada Reuters bunga-bunga itu disingkirkan setiap dua jam agar tidak mengganggu orang yang lewat.

Kejadian di depan kedutaan itu hanya satu dari sekian aksi protes anti perang yang ditindak keras oleh polisi Moskow.

Hampir 6.000 orang telah ditahan dalam protes-protes anti perang sejak Kamis, menurut pemantau protes OVD-Info. Banyak polisi berjaga di alun-alun ibu kota Rusia itu. Alun-alun Pushkin di pusat kota ditutup pada Minggu.

Belum ada jajak pendapat soal pandangan publik terhadap invasi, namun tingkat keterpilihan Presiden Vladimir Putin masih tinggi dan mayoritas penduduk tampak mendukungnya.

Penangkapan aktivis besar-besaran jarang terjadi di Rusia sejak kelompok oposisi pimpinan Alexei Navalny dihancurkan tahun lalu. Navalny kini mendekam di penjara.

Warga negara asing yang panik pada Minggu saling bertelepon dan membahas rencana untuk meninggalkan negara itu setelah Putin memerintahkan agar kekuatan nuklir Rusia ditempatkan dalam siaga tinggi.

Sejumlah penduduk Moskow tampak khawatir dengan sanksi Barat yang diperkirakan akan menimbulkan kekacauan pasar pada Senin.

Beberapa ATM kehabisan uang tunai di Moskow, orang-orang menunggu dalam antrean panjang untuk menarik uang di St Petersburg. Bank Raiffeisen menukar dolar dengan 150 rubel, padahal harganya masih 83 rubel saat penutupan pasar Jumat lalu.

Kedutaan AS mengimbau warga Amerika untuk meninggalkan Rusia “secepatnya” karena semakin banyak penerbangan dibatalkan dan negara-negara menutup wilayah udara mereka bagi maskapai Rusia.

Semua warga negara Prancis dengan kunjungan singkat di Rusia harus pergi secepatnya, kata pemerintah Prancis, Minggu.

Di kedutaan Ukraina, Alexandra mengatakan semua temannya menentang perang, namun sebagian besar orang Rusia, termasuk orang tuanya, mendukung invasi Rusia.

“Orang tua saya tinggal di daerah. Mereka menonton televisi dan propaganda mempengaruhi mereka, mereka mengalami kekosongan informasi… Kami bertengkar setiap hari.”

Anna mengatakan dia telah melakukan protes setiap hari sejak Kamis meskipun berisiko ditangkap. Dia menyesal kenapa tidak dari dulu mendukung politisi oposisi yang bisa membantu gerakan mereka saat ini, sehingga dia menyalahkan dirinya atas invasi Rusia.

“Tak ada yang mengorganisasi kami sekarang. Mereka kini dipenjara atau dicap sebagai ekstremis… Kami telah melewati momen itu,” katanya.

“Kami yang harus disalahkan atas apa yang terjadi. Juga saya, secara pribadi.”

Kedua sahabat itu mengkhawatirkan saudara-saudara mereka di Ukraina. Kali terakhir mereka bicara, saudara-saudara mereka bilang sedang ditugaskan ke lokasi baru, tetapi tidak tahu di mana.

Anna mengatakan adik laki-lakinya, 18 tahun, yang menjalani wajib militer (wamil), tidak bisa menilai situasi secara kritis atau menolak tugas.

“Dia anak desa. Dia tidak pernah membaca (media independen). Dia hanya menonton Channel One (televisi pemerintah). Atasannya memberi perintah… Dia wamil, dia tak bisa menolak.”

Tajuk Utama

* Presiden Vladimir Putin menempatkan sistem penangkal nuklir Rusia dalam siaga tinggi pada Minggu untuk menghadapi pembalasan Barat atas invasi di Ukraina.

* Pejabat Ukraina dan Rusia dijadwalkan mengadakan pembicaraan di sebuah tempat di perbatasan Belarus dengan Ukraina, kata kantor Presiden Volodymyr Zelenskiy pada Minggu.

* Negara-negara Eropa dan Kanada pada Minggu bergerak untuk menutup wilayah udara mereka bagi pesawat Rusia.

* Jepang akan bergabung dengan AS dan negara-negara Barat untuk menutup akses sejumlah bank Rusia ke sistem pembayaran internasional SWIFT.

* Nilai tukar rubel Rusia anjlok hampir 20 persen terhadap dolar AS pada Senin setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi keras kepada Rusia.

* Produsen minyak dan gas Inggris British Petroleum (BP) memutuskan untuk keluar dari Rusia.

* Uni Eropa akan memperketat sanksi kepada Rusia, menyasar sekutu Rusia, Belarus, dengan berbagai aturan, dan mendanai pengadaan senjata bagi Ukraina untuk membantu negara itu melawan invasi Rusia.

* Rusia menyerang fasilitas-fasilitas minyak dan gas Ukraina, memicu ledakan besar.

* Sedikitnya 352 warga sipil, termasuk 14 anak-anak, tewas dan 1.684 orang luka-luka sejak Rusia mulai menginvasi Ukraina, kata kementerian kesehatan Rusia pada Minggu.

* Pengungsi Ukraina telah memasuki Eropa tengah. Antrean di perbatasan memanjang beberapa kilometer setelah invasi Rusia memaksa 400.000 warga untuk menyelamatkan diri ke luar negeri.

* Lebih dari 5.500 orang telah ditahan selama aksi-aksi protes anti perang di Rusia.

* Ukraina mengajukan gugatan terhadap Rusia di Mahkamah Internasional karena telah keliru menuduh Kiev melakukan genosida.

Kata Mereka

“Tindakan kriminal Rusia terhadap Ukraina menunjukkan tanda-tanda genosida,” kata Presiden Zelenskiy, Minggu.

“Tentu seiring waktu, mereka bersama kita. Mereka adalah bagian dari kita dan kita ingin mereka masuk,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tentang Ukraina, Minggu.

“Dia anak desa. Dia tak pernah membaca (media bebas). Dia hanya menonton Channel One (televisi pemerintah). Atasannya memberi perintah … Dia (ikut) wajib militer, dia tak bisa menolak,” kata seorang demonstran anti-perang di Moskow tentang adik lelakinya, 18 tahun, yang dikirim ke Ukraina.(ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *