BERITA UTAMAMIMIKA

Gereja Katolik dan Suku Mimika Wee Akhirnya Meminta Maaf Atas Kesalahan Masa Lalu, Salib Raksasa Berdiri Menghadap Muara Kokonao

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
10
×

Gereja Katolik dan Suku Mimika Wee Akhirnya Meminta Maaf Atas Kesalahan Masa Lalu, Salib Raksasa Berdiri Menghadap Muara Kokonao

Share this article
Salib raksasa yang dipasang menghadap Muara Kokonao.
Salib raksasa yang dipasang menghadap Muara Kokonao.

Timika, fajarpapua.com – Gereja Katolik Keuskupan Timika, Suku Mimika Wee dan Anak Cucu Perintis (ACP) meminta maaf kepada seluruh warga Mimika dari berbagai suku atas kesalahan masa lalu yang dilakukan gereja, suku Mimika Wee dan ACP Mimika.

Sebagai simbol permintaan maaf (rekonsiliasi), sebuah salib raksasa dengan ukiran khas suku Kamoro berdiri di pinggir dermaga Atapo menghadap muara Kokonao.

Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya
Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya

Acara sakral itu dihadiri Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, Ketua Lemasko, Gerry Okoware, Ketua Aliansi Pemuda Kamoro DR Leonard Tumuka, Ketua ACP Petrus Renwarin, serta ribuan ribuan masyarakat Mimika Wee dari 84 kampung mulai dari Nakai hingga Potowayburu.

Seperti disaksikan fajarpapua.com, misa rekonsiliasi dimulai pukul 08.00 WIT, Minggu (24/4).

Rekonsiliasi diawali dengan pemasangan api di dua tungku oleh masyarakat Kiyura, kemudian diberkati Pastor Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo Pr sekaligus memberkati salib Yesus.

Setelahnya, seorang kepala suku mulai memanggil semua arwah leluhur termasuk semua yang dibawa keluar dari Mimika, dan membahasakan secara adat bahwa upacara pembakaran dosa dan semua kesalahan masa lalu akan dimulai.

Saat kepala suku memanggil leluhur, diiringi dengan nyanyian ratapan atau penyesalan dari masyarakat.

Dua tungku tersebut dipisahkan, tungku yang sebelah kiri untuk para warga kombas, warga kampung, warga suku Mimika, petua adat, perwakilan pemerintah, yayasan dan anak cucu perintis (ACP) membakar daftar kesalahan dan kelalaian yang dibuat dimasa lampau yang sudah ditulis di dalam kertas.

Sebaliknya tungku sebelah kiri untuk membakar harapan-harapan dan niat masyarakat kedepan usai rekonsiliasi.

Usai membakar penyesalan dan harapan mereka, selanjutnya masuk dalam upacara pelepasan, dimana semua kepala suku mengambil abu hasil pembakaran dosa dan kesalahan dan menempatkan di wadah yang sudah disediakan.

Secara adat para kepala suku perwakilan kampung membawa abu itu ke sungai dengan iringan tifa dan tarian juga bahasa adat, lalu membuang semua abu penyesalan agar terbawa hanyut oleh air sungai yang mengalir.

Sesudah itu semua kepala suku kembali ke tempat pembakaran dan mengambil abu hasil pembakaran kebaikan dan niat, ditempatkan di wadah yang sudah disediakan, membahasakan secara adat dan diserahkan kepada Pater Marthen
untuk selanjutnya akan diberkati bersama dengan air.

Air dan hasil pembakaran niat kemudian dicampur dengan Garam yang sudah diberkati akan diusapkan kepada seluruh umat yang hadir.

Pastor Marthen Kuayo mengungkapkan rekonsiliasi adalah buah pikiran, program atau rancangan dari Almarhum Uskup Johannes Philipus Saklil Pr pada tahun 2016 yang mencetus satu gerakan yaitu tungku api kehidupan.

“Bagi orang Papua tungku api itu simbol kehidupan ‘ada asap dan api ada hidup’. Maka itu Almarhum mengambil gerakan tungku api,” kata Pastor.

Salah satu cara menggerakan tungku api pencanangan tersebut adalah rekonsiliasi atau memilihkan hubungan dengan Tuhan dan sesama.

“Kita pulihkan berarti ada sesuatu yang terhalang, putus maka kita pulihkan untuk lebuh baik lagi. Rekonsiliasi ini mau memulihkan hubungan yang putus, hancur, rusak, antara kita Mimika wee dengan Tuhan Allah,” ungkapnya.

Momen tersebut kata Pastor, juga akan digunakan untuk saling mengampuni sesama yang lain.

“Atas nama gereja katolik, saya mau memohon maaf jika para pastor, suster, biarawan, biarawati, bruder, dewan, dan semua pelayan umat yang pernah bertugas saya sampaikan mohon maaf jika pernah membuat hari masyarakat Mimika Wee terluka,” katanya. Juga atas nama suku Mimika Wee dan ACP yang telah melakukan kesalahan dimasa lalu, ia menyampaikan permohonan maaf.

Pastor Marthen Kuayo bersama dengan 8 pastor SCJ bersama memimpin perayaan yang sakral tersebut.

Ketua Panitia Dominikus Mitoro mengatakan saat ini Tuhan Yesus sudah bersihkan semua beban dosa.

“Dengan rekonsiliasi ini kita berharap agar kedepan generasi muda memiliki masa depan yang lebih cerah. Anak anak ahrus sekolah, menjadi imam dan lainnya,” ungkapnya.

Ketua Lemasko, Gerry Okoware mengatakan hari ini adalah hari bersejarah bagi masyarakat Mimika Wee

“Kita adalah umat yang dikasihi oleh Tuhan, kita diberkati, hari ini kita tambah diberkati lagi. Kita bersatu untuk maju sama-sama., Suku Mimika harus maju,” harapnya.

Ketua Paguyuban Anak Cucu Perintis (ACP), Piet Renwarin mengungkapkan dengan jasa para petua dahulu yang masuk ke Mimika untuk mengabdi, mereka pun ingin memajukan Mimika.

“Hidupku untukmu Mimika Papua dan matiku untuk dia yang mengutus aku. Masyarakat Mimika harus menjadi tuan diatas negeri sendiri,” ungkapnya.

Wakil Bupati, Johannes Rettob memberikan apresiasi kepada Almarhum Uskup John Philip Saklil dalam gerakan tungku Api kehidupan salah satunya hingga terjadi rekonsiliasi.

“Saya juga hadir sebagai anak Mimika Wee. Saya minta maaf atas nama pemerintah kabupaten atas kurangnya perhatian kepada anak anak Mimika Wee. Kita akan buat dan mulai perhatikan orang Mimika Wee kita harus perhatikan daerah ini. Momen ini sebagai momen kebangkitan kita dan masyarakat harus memberikan dukungan,” katanya.

Ia pun mengingatkan masyarakat seperti yang selalu digaungkan oleh Almarhum Uskup John Philip Saklil ‘Janvan menjual tanah tapi hidup dari mengolaj tanah’.

“Jangan menjual tanah. Generasi penerus harus sekolah baik, Kita bangkit dan berbuat semuanya dalam kehidupan kira sehari-hari,” katanya.

Tepat pukul 13.00 masyarakat Mimika mulai membuat ritual adat untuk memasang Salib Yesus menambah sakral upacara rekonsiliasi Mimika Wee yang bertema “Menemukan Sejarah Keselamatan Dan Menatap Masa Depan”. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *