BERITA UTAMAMIMIKA

Warga Banti Kesulitan Minyak Tanah, Pertamina Dua Kali Abaikan Surat Disperindag Mimika

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
3
×

Warga Banti Kesulitan Minyak Tanah, Pertamina Dua Kali Abaikan Surat Disperindag Mimika

Share this article
IMG 20230206 WA0029
Kepala Disperindag Kabupaten Mimika Petrus Pali Ambaa

Timika, fajarpapua.com – Sejak 2 tahun terakhir warga Kampung Banti, Distrik Tembagapura Mimika, Papua Tengah mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan BBM terutama minyak tanah.

Sementara surat permohonan untuk dibukanya pangkalan minyak tanah di wilayah itu yang diajukan sejak Tahun 2021 lalu hingga kini belum mendapat jawaban dari instansi terkait.

Ads

Berdasar data yang diterima fajarpapua.com Senin (6/2) kemarin, akibat sulitnya mendapatkan minyak tanah warga Banti selama ini terpaksa membeli minyak tanah dari pedagang dengan harga Rp 120 ribu per liternya.

Meski sangat mahal, warga terpaksa membeli mengingat di wilayah tersebut untuk mendapatkan bahan bakar alternatif seperti kayu bakarpun sulit didapatkan.

Tokoh Masyarakat Banti, Dolfi Beanal mengatakan pihaknya sudah berusaha membantu warga dengan menyuplai minyak tanah ke wilayah itu dan menjual dengan harga Rp 16 ribu per liternya.

Namun, hal itu belum dapat memenuhi kebutuhan warga sehingga pada Tahun 2021 lalu dirinya telah menyurat ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika untuk meminta dibuat pangkalan minyak tanah di Kampung Banti.

“Kami sangat butuh bantuan subsidi minyak tanah dari pemerintah, warga disana beli minyak tanah itu harga 120 ribu per liter,” katanya.

“Kami minta pemerintah menyediakan pangkalan minyak tanah khusus di wilayah Tembagapura, karena kita kesulitan, bahkan kayu bakar pun tidak ada,” lanjutnya.

Kepala Disperindag Kabupaten Mimika Petrus Pali Ambaa saat dikonfirmasi terkait keluhan warga Banti mengatakan sudah merespon surat warga Banti dengan meneruskan permohonan itu ke Pertamina.

Bahkan pihaknya sudah dua kali menyurat ke Pertamina Timika, namun hingga kini belum mendapatkan balasan.

“Sudah dua kali kami menyurati Pertamina tapi sampai hari ini belum ada jawaban,” ujar Petrus di Timika, Senin (6/2).

Disperindag Kabupaten Mimika lanjutnya, juga telah menyurat ke PTFI untuk memohon bantuan pengangkutan minyak tanah ke Kampung Banti dan surat tersebut sudah direspon.

PT Freeport Indonesia siap membantu transportasi minyak tanah ke Banti, tinggal menunggu kesediaan Pertamina untuk menyediakan alokasi minyak tanahnya,” ujarnya.

“Intinya di Pertamina harus segera menjawab permintaan kuota minyak tanah warga Banti, seandainya Pertamina menjawab permintaan itu maka Freeport pun siap membantu proses pengangkutan,” tambahnya.

“Kami tidak tahu ada persoalan apa sehingga Pertamina hingga kini tidak menjawab permintaan yang kita ajukan itu,” tukasnya. (feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *