Timika, fajarpapua.com — Di tengah tantangan pembangunan sumber daya manusia di Papua, upaya membangun generasi unggul terus digelorakan melalui jalur pendidikan.
Salah satu langkah konkret itu terlihat dari pelaksanaan Lomba Potensi Sains yang digelar Sekolah Asrama Taruna Papua dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah di Timika, Selasa (7/4), bukan sekadar ajang kompetisi akademik biasa.
Lebih dari itu, lomba ini menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan daya juang, kepercayaan diri, serta semangat berprestasi bagi pelajar Papua sejak usia dini.
Di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, Sekolah Asrama Taruna Papua mencoba menghadirkan model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pola pikir.
Membangun Mental Kompetitif
Perwakilan yayasan, Oktovianus V. Rori, menegaskan kompetisi seperti ini memiliki peran penting dalam membentuk mental pelajar Papua agar siap bersaing di tingkat yang lebih luas.
Menurutnya, kemampuan intelektual harus berjalan beriringan dengan karakter yang kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan sportivitas.
“Lomba ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak belajar berproses, berani mencoba, dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka,” ujarnya.
Tiga bidang utama yang dilombakan—Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)—dipilih sebagai fondasi penting dalam membangun kemampuan berpikir logis, analitis, dan kontekstual siswa.
Dalam konteks Papua, pendekatan ini menjadi relevan karena pendidikan tidak hanya dituntut mencetak lulusan, tetapi juga individu yang mampu menjawab tantangan nyata di lingkungan sekitarnya.
Menuju Transformasi Pendidikan
Kepala SD-SMP Sekolah Asrama Taruna Papua, Sonianto Kuddi, melihat lomba ini sebagai bagian dari transformasi sistem pembelajaran di sekolah.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya lomba hanya diikuti oleh perwakilan siswa, tahun ini seluruh siswa diwajibkan berpartisipasi.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa peningkatan kualitas akademik terjadi secara merata.
“Kami ingin semua anak merasakan pengalaman berkompetisi. Dari situ akan muncul keberanian, daya juang, dan semangat belajar yang lebih tinggi,” jelasnya.
Ia menekankan pendidikan di Sekolah Asrama Taruna Papua tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.
Sejak kelas 1, siswa sudah dibiasakan untuk memiliki karakter tangguh, disiplin, dan pantang menyerah.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat tantangan pendidikan di Papua yang tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.
Menjaring Bibit Unggul
Ketua UPT Pusat Prestasi, Elpianus Paat, menambahkan bahwa lomba ini juga berfungsi sebagai mekanisme penjaringan talenta unggul yang nantinya dipersiapkan untuk mengikuti ajang kompetisi yang lebih tinggi, seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Soal-soal yang digunakan dalam lomba pun tidak disusun secara sembarangan. Guru-guru yang terlibat merupakan pendamping OSN, sehingga tingkat kesulitan soal disesuaikan mulai dari level kabupaten hingga nasional.
“Ini bagian dari pembiasaan. Anak-anak diperkenalkan dengan standar soal yang lebih tinggi agar mereka tidak kaget ketika menghadapi kompetisi di luar,” katanya.
Selain itu, penghargaan berupa trofi dan sertifikat diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi siswa untuk terus berkembang.
Budaya Prestasi Dibangun
Ketua Panitia, Yeremia Piri, mengungkapkan pelaksanaan lomba dilakukan secara bertahap, dimulai dari seleksi di masing-masing kelas untuk menjaring lima peserta terbaik di setiap mata pelajaran.
Para finalis nantinya akan bertanding pada babak puncak yang dijadwalkan berlangsung pada 17 April 2026.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya menyasar siswa tingkat atas, tetapi juga melibatkan siswa kelas 1 melalui lomba literasi dan numerasi.

















Komentar (0)