Jakarta – Senator AS JD Vance menyatakan bahwa ketidakpercayaan antara Iran dan Amerika Serikat merupakan masalah kompleks yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Pernyataan ini disampaikan Vance saat berbicara di acara Turning Point USA pada Selasa (14/4), menegaskan bahwa upaya rekonsiliasi membutuhkan waktu dan kesabaran.
Dalam pidatonya, Vance menegaskan, \”Tentu saja ada banyak ketidakpercayaan antara Iran dan Amerika Serikat. Anda tidak akan bisa menyelesaikan masalah itu dalam semalam.\” Pernyataan ini muncul usai pertemuan langsung antara kedua negara yang berlangsung selama 21 jam pada Minggu (12/4), namun gagal mencapai kesepakatan karena Iran menolak beberapa permintaan Amerika, termasuk penghentian penuh program nuklir Teheran.
Meski mengalami kegagalan, Vance tetap optimistis bahwa negosiasi akan membuahkan hasil. Ia menyatakan, \”Saya merasa sangat optimis dengan posisi kita saat ini,\” menanggapi prospek kesepakatan di masa depan. Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa negosiasi putaran kedua kemungkinan akan digelar di Islamabad, Pakistan, pada Kamis (16/4), meskipun dirinya tidak akan turut serta langsung.
Langkah Trump tersebut diikuti oleh ancaman blokade di Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap Iran. Sejak perang meletus pada 28 Februari lalu, Iran secara diam-diam mengekspor jutaan barel minyak ke berbagai negara Asia dan menutup jalur strategis tersebut untuk kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel. Tindakan itu menyebabkan lonjakan harga minyak dunia dan krisis energi global, menjadikan isu ini sebagai salah satu poin utama dalam negosiasi antara kedua negara.







Komentar (0)