Penertiban pedagang kaki lima di Bangkok, Thailand, memasuki babak baru yang mengancam keberlangsungan budaya kuliner jalanan kota tersebut. Kebijakan ini dilakukan pemerintah kota untuk menata trotoar dan mengurangi kepadatan di kawasan padat pejalan kaki, namun menuai berbagai kekhawatiran dari para pedagang dan wisatawan.
Sejak 2022, data Pemerintah Metropolitan Bangkok menunjukkan penurunan jumlah pedagang keliling lebih dari 60 persen, atau sekitar 10.000 pedagang, akibat relokasi dan aturan ketat. Banyak pedagang menilai langkah ini mengganggu mata pencaharian mereka, apalagi beberapa dari mereka sudah berjualan selama puluhan tahun dan merasa kehilangan tempat berjualan yang nyaman dan familiar.
Sementara itu, sejumlah pedagang yang telah dipindahkan ke pusat jajanan resmi mengalami peningkatan pendapatan dan mengaku tempat baru tersebut lebih bersih dan terorganisir. Namun, tidak sedikit yang merasa keberatan harus meninggalkan lokasi lamanya, seperti Thitisakulthip Sang-uamsap, pedagang berusia 67 tahun yang telah berjualan selama lebih dari 40 tahun di sekitar kawasan lama.
Di sisi lain, wisatawan dari berbagai negara tetap menganggap kuliner jalanan sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman berwisata di Bangkok. Oliver Peter, turis asal Jerman, menyatakan bahwa suasana menikmati makanan di pinggir jalan sulit tergantikan dan merupakan bagian dari identitas budaya kota ini. Pengetatan aturan ini menimbulkan dilema antara menjaga keindahan kota dan pelestarian tradisi kuliner yang telah melekat lama.








