Sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat secara terbuka mendesak Departemen Luar Negeri untuk mengungkapkan keberadaan dan kapasitas senjata nuklir Israel. Mereka menilai transparansi sangat penting mengingat ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas, terutama dalam konteks konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Dalam surat tertanggal 4 Mei kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio, para legislator ini menyoroti ketidakjelasan soal program nuklir Israel yang sudah berlangsung sejak lama. Meski diperkirakan Israel memiliki senjata nuklir sejak 1980-an, negara ini tidak pernah secara resmi mengonfirmasi keberadaan maupun jumlah persenjataannya. Sementara itu, Amerika Serikat sendiri dikatakan masih bersikap ambigu mengenai hal ini.
Para anggota Kongres menegaskan bahwa Amerika memiliki tanggung jawab konstitusional untuk mengetahui secara lengkap tentang kekuatan nuklir di Timur Tengah. Mereka juga mengajukan pertanyaan kritis kepada Pemerintah AS, termasuk mengenai kemampuan nuklir Israel, tingkat pengayaan uranium, serta potensi penggunaan senjata tersebut selama konflik dengan Iran atau situasi lainnya. Hal ini mencerminkan kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi kekerasan dan risiko keamanan regional.
Selain itu, laporan dari Nuclear Threat Initiative menyebutkan bahwa Israel diduga memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir, dengan persediaan plutonium mencapai 750 hingga 1.110 kilogram. Israel juga diketahui memiliki enam kapal selam yang mampu meluncurkan rudal nuklir jarak menengah, yang berpotensi mencapai target di wilayah hingga 6.500 km. Pengungkapan ini menambah kekhawatiran internasional tentang transparansi program nuklir Israel yang selama ini tetap tertutup dari publik dan dunia internasional.








Komentar (0)