Sejak dimulainya konflik udara antara India dan Pakistan pada 7 Mei 2025, laporan terbaru dari lembaga militer Swiss mengungkapkan bahwa meskipun awalnya Pakistan terlihat unggul, akhirnya India memperoleh keunggulan strategis yang signifikan. Dalam setahun terakhir, serangan beruntun dan operasi sistematis telah menyebabkan kerusakan besar pada aset militer Pakistan dan mengubah dinamika peperangan udara di kawasan.
Laporan yang dirilis oleh Centre d'Histoire et de Prospective Militaires di Swiss pada 15 Januari 2026 ini menyajikan gambaran lengkap tentang perkembangan konflik yang bermula dari serangan India terhadap sembilan lokasi di Pakistan dan Kashmir sebagai balasan atas serangan di Pahalgam. Pada fase awal, pasukan India kehilangan satu pesawat Rafale, satu Mirage 2000, dan satu MiG-29UPG atau Su-30MKI, yang sempat memunculkan persepsi bahwa Pakistan unggul secara taktis. Namun, situasi berubah secara cepat ketika India melancarkan kampanye besar-besaran yang menargetkan sistem pertahanan udara Pakistan, termasuk radar dan baterai rudal.
Serangan udara India pada 8 Mei dan 9 Mei secara sistematis melemahkan pertahanan udara Pakistan, dengan penggunaan drone kamikaze dan rudal presisi jarak jauh. Sistem pertahanan India, seperti S-400, bahkan mampu mengancam target dari jarak hampir 300 kilometer, menyebabkan kerugian besar pada pesawat dan fasilitas Pakistan. Pangkalan udara utama seperti Nur Khan dan Murid mengalami kerusakan serius, sementara beberapa pesawat seperti F-16 dan JF-17 diduga jatuh akibat serangan tersebut.
Meski awalnya Pakistan mencatat keberhasilan taktis, laporan tersebut menunjukkan bahwa strategi India yang mengintegrasikan sistem sensor, senjata, dan jaringan komunikasi memberi keunggulan besar. Situasi memuncak saat India melancarkan serangan presisi menggunakan rudal BrahMos, SCALP-EG, dan Rampage ke berbagai pangkalan udara penting Pakistan, termasuk yang dekat Islamabad dan di wilayah tengah serta selatan. Keputusan Pakistan untuk mencari gencatan senjata pada 10 Mei lebih dipicu oleh kondisi medan perang dan kerusakan yang makin parah, bukan tekanan diplomatik semata. Konflik ini memperlihatkan bahwa perang udara modern kini lebih bergantung pada sistem terintegrasi daripada duel antar pesawat semata.

