Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Tertinggi di Tanah Papua, Inflasi Papua Tengah Capai 0,52 Persen pada Mei 2026

Ilustrasi
IlustrasiFoto / PAPUA
Redaksi Fajar Papua2 menit baca13 kali dibaca

Jayapura, fajarpapua.com – Provinsi Papua Tengah mencatat inflasi bulanan tertinggi di wilayah Tanah Papua pada Mei 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Papua, inflasi di Papua Tengah mencapai 0,52 persen month to month (mtm), disusul Papua Pegunungan sebesar 0,48 persen (mtm).

Sementara itu, dua provinsi lainnya justru mengalami deflasi, yakni Papua sebesar -0,68 persen (mtm) dan Papua Selatan sebesar -0,50 persen (mtm).

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar mengatakan, secara umum inflasi di wilayah Papua dan daerah otonomi baru (DOB) masih terkendali dan berada dalam sasaran target nasional.

“Inflasi bulanan ini masih terjaga dalam sasaran target nasional dengan didukung pasokan pangan lokal yang memadai, terutama cabai rawit dan aneka sayur seperti kangkung, bayam dan sawi hijau seiring cuaca yang lebih kondusif,” ujar David Sipahutar, Senin (8/6).

Namun demikian, inflasi di Papua Tengah dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas dan biaya transportasi.

Komoditas penyumbang utama inflasi di Papua Tengah berasal dari tarif angkutan udara, beras, dan tahu mentah.

Berdasarkan data BPS Papua, andil inflasi tertinggi di Papua Tengah berasal dari Angkutan udara sebesar 0,10 persen (mtm), Beras sebesar 0,09 persen (mtm) dan Tahu mentah sebesar 0,08 persen (mtm).

Di sisi lain, laju inflasi di Papua Tengah masih tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan seperti cabai rawit, bawang merah, dan tomat yang masing-masing menyumbang deflasi sebesar -0,18 persen, -0,13 persen, dan -0,11 persen (mtm).

Selain mencatat inflasi bulanan tertinggi, Papua Tengah juga membukukan inflasi tahun berjalan sebesar 0,68 persen (ytd) dan inflasi tahunan sebesar 2,05 persen (yoy).

David menjelaskan, kenaikan inflasi di wilayah Papua secara umum juga dipengaruhi penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi, khususnya avtur, yang berdampak langsung terhadap kenaikan tarif angkutan udara di Papua dan tiga DOB lainnya.

Sementara itu, inflasi di Papua Pegunungan turut dipengaruhi kenaikan harga tomat, daging ayam ras, dan tarif angkutan udara.

Adapun Papua dan Papua Selatan mengalami deflasi akibat turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti ikan tuna, cabai rawit, kangkung, dan sawi hijau.

Untuk menjaga stabilitas harga pangan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan mitra strategis terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di seluruh wilayah Papua dan DOB.

Selain itu, dukungan sarana dan prasarana pertanian juga diberikan kepada kelompok tani di Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan guna menjaga kelancaran produksi dan distribusi pangan.(hsb)

Tertinggi di Tanah Papua, Inflasi Papua Tengah Capai 0,52 Persen pada Mei 2026 | Fajar Papua