Nduga, fajarpapua.com – Lima anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dilaporkan tewas dalam rangkaian operasi militer TNI yang berlangsung di wilayah Yuguru dan Kilmid, Kabupaten Nduga, sejak Maret hingga Juni 2026.
Dalam siaran pers yang diterima Sabtu (6/6), Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom menyebut operasi militer Indonesia yang melibatkan pesawat nirawak dan serangan darat telah menyebabkan korban jiwa di pihak TPNPB serta kerusakan pada sejumlah pemukiman warga.
Dikatakan, berdasarkan laporan yang disampaikan Komandan TPNPB Kodap III Ndugama-Derakma Mayor Yibet Gwijangge dan Komandan Operasi Batalyon Yuguru Mayor Soa-Soa Karunggu, korban pertama dari pihak TPNPB adalah Komandan Operasi Batalyon Mugi Mayor Ket Gwijangge yang dilaporkan gugur dalam kontak senjata di Gunung Lobe Alma pada 28 April 2026.
Selanjutnya, TPNPB mengklaim serangan udara pada 18 Mei 2026 menghancurkan markas Batalyon Yuguru dan menyebabkan seorang anggota bernama Enggenpi Gwijangge meninggal dunia.
Pada hari yang sama, serangan udara di wilayah Kilmid juga diklaim menewaskan tiga anggota TPNPB Kodap III Ndugama-Derakma. Dengan demikian, Sebby menyebut sedikitnya lima anggota mereka tewas dalam rangkaian operasi militer yang terjadi sepanjang April hingga Mei 2026.
Selain melaporkan korban di pihaknya, TPNPB juga menuduh serangan udara menggunakan pesawat nirawak telah merusak rumah, tempat ibadah dan kebun di sejumlah lokasi di Nduga.
Ia meminta pemerintah Indonesia menghentikan penggunaan pesawat nirawak dalam konflik bersenjata di Papua serta menjamin perlindungan terhadap warga sipil sesuai hukum humaniter internasional.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak TNI terkait jumlah kematian anggota OPM serta klaim tewasnya dua anggota TNI dalam pertempuran tersebut.(red)


