Lewati ke konten utama

Belum Sembuh Kehilangan Sang Ibu, Bocah 4 Tahun di Papua Ini Kini Berjuang Melawan Kanker Ginjal Ganas

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
17.16 WIT3 menit baca71 dibaca
Michael, bocah berusia empat tahun yang hanya bisa menangis sambil memeluk ayahnya, berharap rasa sakitnya sembuh.
Michael, bocah berusia empat tahun yang hanya bisa menangis sambil memeluk ayahnya, berharap rasa sakitnya sembuh.Foto / Kesehatan
Bagikan berita ini
Aa

Penulis : Mustofa (Pemred www.fajarpapua.com)

DUKA Seharusnya memiliki waktu untuk sembuh. Namun bagi Mikael, duka justru disusul cobaan yang jauh lebih berat.

Belum lama kehilangan sosok ibu yang selama ini menjadi tempatnya bermanja, bocah asal Papua itu kini harus bertarung melawan kanker ginjal ganas di usianya yang masih sangat belia.

"BAPAK... perut saya sakit... Bapak gendong saya." Rengekan itu nyaris terdengar setiap saat dari bocah mungil yang kini hanya lebih banyak berbaring di tempat tidur salahsatu rumah sakit di Jayapura.

Kalimat sederhana itu terus diucapkan Mikael setiap kali rasa nyeri menyerang tubuh mungilnya.

Bocah berusia empat tahun asal Papua itu hanya bisa menangis sambil memeluk ayahnya, berharap rasa sakit yang ia alami segera mereda.

Di usia ketika anak-anak seusianya masih bebas bermain dan tertawa, Mikael justru harus menghadapi kenyataan pahit.

Belum lama kehilangan ibu tercinta, kini ia didiagnosis menderita nefroblastoma atau kanker ginjal ganas yang mengancam keselamatan jiwanya.

Kehilangan sang ibu menjadi pukulan besar bagi Mikael. Sejak itu, kehidupan keluarganya berubah.

Ia kini tinggal bersama ayah dan kakaknya. Tidak ada lagi sosok mama yang memeluknya ketika menangis atau menemaninya saat sakit.

Duka yang belum sempat pulih itu kembali disusul cobaan lain. Pada April 2026, Mikael mulai mengeluhkan rasa sakit di bagian perut.

Awalnya keluarga mengira hanya sakit biasa. Namun dalam hitungan hari, kondisinya memburuk dengan sangat cepat.

Perut Mikael terus membesar, sementara tubuhnya justru semakin kurus hingga tulang-tulang rusuknya terlihat jelas.

Nafsu makannya menurun drastis. Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter menyatakan Mikael mengalami gizi buruk berat jenis marasmus.

Harapan keluarga kembali diuji ketika hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya tumor ganas di ginjal Mikael.

Dokter mendiagnosisnya menderita nefroblastoma, salah satu jenis kanker ginjal pada anak yang membutuhkan penanganan medis segera.

Cobaan itu belum berakhir. Tim medis juga menemukan adanya penumpukan cairan di paru-paru sebelah kiri atau efusi pleura.

Cairan tersebut menekan paru-paru Mikael sehingga membuatnya sering mengalami sesak napas.

Kini, setiap tarikan napas menjadi perjuangan berat bagi tubuh kecilnya yang telah melemah akibat gizi buruk dan kanker.

Menangis Hingga Tertidur

Setiap malam menjadi waktu yang paling berat bagi Mikael dan ayahnya. Rasa nyeri akibat pembengkakan di perut membuat Mikael sulit tidur.

Ia terus berganti posisi mencari kenyamanan, namun rasa sakit tak kunjung hilang.

"Kalau sakit datang, Mikael hanya minta digendong. Kadang dia menangis sampai tertidur karena kelelahan," tutur sang ayah dengan suara bergetar.

Bagi sang ayah, menyaksikan anaknya meringkuk kesakitan adalah penderitaan yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Namun di tengah kesedihan itu, ia harus tetap tegar demi menjadi satu-satunya sandaran bagi Mikael dan kakaknya.

Tabungan Habis

Sejak istrinya meninggal dunia, sang ayah menjalani dua peran sekaligus, sebagai pencari nafkah dan pengasuh bagi kedua anaknya.

Hampir seluruh tabungan keluarga telah habis untuk biaya pengobatan Mikael.

Padahal perjuangan masih sangat panjang. Mikael masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan, tindakan medis, obat-obatan, nutrisi khusus, hingga perawatan intensif agar kondisinya tidak semakin memburuk.

Di balik tubuh kecil yang dipenuhi rasa sakit, Mikael masih menyimpan harapan sederhana.

Ia ingin sembuh. Ia ingin kembali bermain bersama teman-temannya. Ia ingin memiliki lebih banyak waktu bersama ayah dan kakaknya.

Perjuangan Mikael kini membutuhkan dukungan banyak pihak.

Bantuan dari masyarakat akan digunakan untuk membantu biaya pemeriksaan lanjutan, pengobatan, nutrisi, hingga perawatan medis yang harus dijalani Mikael.

Masyarakat yang ingin membantu dapat menyalurkan donasi melalui laman penggalangan dana Kitabisa di:

https://kitabisa.com/campaign/cppmikael