Timika, fajarpapua.com – Korban konflik Kwamki Narama, JY, diduga dipancing seorang perempuan melalui media sosial untuk bertemu di kawasan SP 3, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sebelum akhirnya dibunuh pada Sabtu (26/9) malam.
Informasi tersebut disampaikan Kapolsek Kwamki Narama Iptu Yusak Sawaki saat menjelaskan perkembangan kasus pembunuhan JY dan situasi keamanan setelah prosesi kremasi jenazah korban, Minggu (27/9).
“Korban kemudian datang ke lokasi pertemuan dan dibunuh oleh pelaku di Jalan Diponegoro, SP 3 tembusan Jileyale pada Sabtu (26/9) malam,” jelas Iptu Yusak.
Jenazah JY sebelumnya dikawal personel Polsek Kuala Kencana dari RSMM menuju perempatan Jalan Waanal. Selanjutnya, jenazah dijemput dan dikawal personel Polsek Kwamki Narama menuju lokasi Kelompok Newegalen untuk menjalani prosesi kremasi.
Setibanya di lokasi, pihak keluarga dan masyarakat menyiapkan tungku untuk prosesi kremasi. Dalam proses tersebut, Kelompok Newegalen menyampaikan identitas almarhum kepada Kelompok Dang.
Namun, prosesi kremasi diwarnai aksi saling provokasi antara kedua kelompok yang bertikai.
“Setelah jenazah tiba, kemudian dilakukan persiapan untuk prosesi kremasi. Namun, selama proses berlangsung terjadi provokasi dari kedua kelompok,” kata Iptu Yusak Sawaki.
Menurutnya, situasi sempat memanas akibat aksi saling provokasi. Untuk mencegah berkembangnya situasi menjadi bentrokan, personel Polsek Kwamki Narama bersama petugas RSMM memilih meninggalkan lokasi.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Mimika tiba di Mapolsek Kwamki Narama untuk mengecek situasi dan melakukan koordinasi terkait perkembangan keamanan pascaprosesi kremasi.
Iptu Yusak menyebutkan, dengan meninggalnya JY, jumlah korban meninggal dunia akibat konflik sosial antara Kelompok Newegalen dan Kelompok Dang kini mencapai 26 orang.
“Dari data yang kami terima, korban meninggal dari Kelompok Newegalen sebanyak 12 orang, sedangkan dari Kelompok Dang sebanyak 14 orang,” ujarnya.
Polisi juga menerima informasi mengenai adanya rencana aksi pembalasan dari Kelompok Newegalen. Berdasarkan informasi tersebut, aksi tidak dilakukan pada Sabtu (26/9), tetapi direncanakan Senin (28/9).
Informasi tersebut menjadi perhatian aparat keamanan karena adanya potensi aksi saling serang antara kedua kelompok.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, perlu disiapkan personel untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya aksi saling serang antara kedua kelompok,” kata Yusak.
Ia menambahkan, hingga saat ini situasi pascaprosesi kremasi jenazah JY masih terpantau aman dan terkendali. Aparat kepolisian terus melakukan pemantauan guna mencegah gangguan keamanan maupun aksi balasan.
Polisi juga mengimbau kedua kelompok agar menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperluas konflik serta mengganggu keamanan masyarakat di wilayah Kwamki Narama. (ron)









