Wabup John Rettob Temui Warga 3 Kampung Evakuasi Tembagapura, FPHS Sampaikan Apresiasi

by -
Wakil Bupati
Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob S.Sos,MM berdialog dengan warga pengungsi 3 kampung.

Timika, fajarpapua.com – Forum Pemilik Hak Sulung Kampung Tsinga, Waa/Banti dan Arwanop (FPHS Tsingwarop) menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob S.Sos, MM atas kunjungan langsung ke rumah  Kepala Suku Yunus Omabak, tempat penampungan masyarakat evakuasi 3 kampung Tembagapura yang berada di Jalan Jeruk SP 2, Timika, Papua.

Dari sekian tempat tinggal, kediaman Yunus ditempati hampir 50 orang warga. Hal itulah yang menjadi alasan Wabup JR memilih tempat tersebut sebagai lokasi kunjungan serta berdialog langsung dengan para pengungsi.

Setelah mendengar keluhan langsung dari masyarakat, Wabup JR meminta waktu 1 minggu ini untuk berkoordinasi dengan Tim yaitu TNI/Polri dan juga PT. Freeport Indonesia.

“Dari hasil koordinasi nanti pemerintah akan kabarkan kepada masyarakat untuk jadwal kembali ke kampung sesuai harapan,” ujar Wabup JR.

Terlihat masyarakat sangat berharap bisa merayakan Natal di gereja masing-masing di kampung halaman.

“Kami dari Forum Pemilik Hak Sulung bersama Konsultan Hukum Kami Pak Haris Azhar akan kawal terus proses pemulangan masyarakat evakuasi ini, dan siap membantu dan membekup Pemda Mimika dalam hal proses pemulangan masyarakat. Kami akan terus memastikan bahwa semua berjalan baik sesuai dengan harapan semua masyarakat dan stakeholder yang ada sehingga hal ini memberikan rasa aman dan damai,” ungkap Sekretaris FPHS, Yohan Zonggonau kepada Fajar Papua, Selasa (24/11) pagi.

Dikatakan, ‘tanah adalah mama’  menjadi filosofi masyarakat 3 kampung sehingga mereka harus kembali ke kampung halaman.

“Masyarakat mau hidup baik tanpa membebani orang di Kota Timika.  Mereka merasa damai tenang jika bisa kembali ke kampung halaman dan tidak mengalami kesulitan seperti tinggal di Timika,” ujarnya.

Banyak hal yang menjadi ancaman  jika mereka tidak kembali ke kampung halaman yaitu biaya makan, kontrakan, transportasi, dan rumah sakit.

Apalagi sudah 17 orang meninggal dunia dan ada beberapa orang yang sudah sakit parah.

banner 300250

“Mereka tidak mau dengan kesulitan hidup tinggal di kota Timika, mereka terus menyuarakan untuk balik, karena juga tidak mau menjadi beban orang lain,” tandasnya.

Terkait rencana Tim Monitoring yang akan dibentuk melihat situasi rumah-rumah warga di Kampung Waa dan Opitawak hendaknya tidak menjadi prioritas.

“Biarkan masyarakat ini balik dulu di Kampung Banti1, Banti2 dan Opitawak lalu tim mau lakukan monitoring untuk perbaikan dan renovasi itu akan lebih baik,” harapnya.

Menyimak kondisi yang ada, dia berharap pemerintah, TNI, Polri dan PT Freeport Indonesia diharapkan memberikan keputusan sesegera mungkin memulangkan warga.(ana)

INFO IKLAN 0812-3406-8145