BERITA UTAMAMIMIKA

Homili Jumat Agung: Meneladani Sikap Yesus yang Siap Berkorban, Iklas Menyerahkan Diri

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
8
×

Homili Jumat Agung: Meneladani Sikap Yesus yang Siap Berkorban, Iklas Menyerahkan Diri

Share this article
Pater Maximilianus Dora, OFM
Pater Maximilianus Dora, OFM

Pastor Maximilianus Dora, OFMPASTOR PAROKI ST STEFANUS SEMPAN TIMIKA

KALAU kita mengikuti dengan baik kisah sengsara, penderitaan dan kematian, kita akan menemukan di sana antara lain sikap Yesus yang pasrah terhadap para musuh-Nya, pasrah terhadap kematian.

Ads

Sejak peristiwa penangkapan atas diri-Nya, Dia dengan berani bertanya kepada musuh-Nya: siapa yang kamu cari?. Jawaban mereka: Yesus dari Nazaret. Kata-Nya kepada mereka: Akulah Dia. Dua kali Yesus bertanya, Siapakah yang kamu cari? Dua kali pula mereka menjawab: Yesus dari Nazaret. Dua kali pula Dia menjawab: telah kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Inilah sikap Yesus yang dengan gagah dan berani menyerahkan Diri-Nya kepada para musuh-Nya.

Dalam kehidupan kita, jarang sekali ada orang yang menyerahkan diri kepada musuh. Biasanya, dalam kehidupan kita, orang lari menghindar, atau bersembunyi diri, apabila musuh datang atau mengejar.

Tidak ada orang yang bertahan tinggal di tempat kalau musuh datang, barang siapa tidak mau lari ketika musuh datang, itu berarti kepalanya melayang.

Karena itu, manusia seperti kita pada umumnya selalu lari apabila bahaya datang. Manusia pada umumnya tidak ada yang menyerahkan diri kepada musuh. Biarpun dirinya jelas-jelas berdosa, bersalah atau berbuat curang seperti korupsi atau mencuri, tetap saja dia tidak akan menyerahkan dirinya. Kalaupun terjadi hanya karena situasi yang terpaksa, entah karena dia sudah menemui jalan buntu, entah karena dia tidak bisa lari lagi dari pengejaran musuh, entah karena dia tidak bisa lagi menyembunyikan diri atau karena orang lain menangkap dia.

Inilah sikap manusia pada umumnya berhadapan dengan musuh: dia akan lari, bersembunyi, memberontak.

Berbeda dari sikap manusia yang lari bersembunyi atau menjauhi musuh, Tuhan Yesus justru sebaliknya. Dia datang mendekati musuh, menyongsong para musuh-Nya dan menyerahkan Diri-Nya kepada mereka sambal berkata: Akulah Dia!.

Tuhan Yesus bersikap pasrah dan mengalah terhadap musuh. Apakah Tuhan Yesus tidak kuat sehingga Dia menyerahkan Diri-Nya kepada musuh-Nya?

Apakah tidak ada orang lain, seperti murid-murid-Nya yang dapat membela Dia, sehingga merasa diri seperti “tidak berdaya” dan karena itu berpasrah saja terhadap musuh-musuh-Nya itu?

Atau apakah Tuhan Yesus mencintai permusuhan atau perkelahian, pertengkaran atau peperangan, sehingga Dia menyerahkan Diri kepada para musuh-Nya.

Ada alasan pokok mengapa Tuhan Yesus mendekati dan meyerahkan diri kepada para musuh-Nya.

Pertama, para musuh bukanlah orang-orang yang mesti dibenci atau dijauhi, ditolak atau disingkirkan. Sebaliknya, mereka mesti dicintai, dan didekati, diterima dan dirangkul.

Kita memang membenci permusuhan, menjauhi pertengkaran, menyingkirkan perselisihan dan menolak peperangan, orang-orang yang berkelahi atau berperang dan bertengkar satu sama lain.

Permusuhan tidak bisa diatasi dengan membenci dan menjauhi orang-orang yang bermusuhan, permusuhan itu sendiri akan menjadi-jadi dan semakin hebat.

Orang yang kita terima dan kita cintai adalah manusia, dan hal yang kita benci dan kita tolak adalah kejahatannya atau perbuatannya yang buruk. Hal yang kita benci adalah dosa, pribadi yang kita terima adalah orangnya atau manusianya.

Kedua, Tuhan mau menyelamatkan manusia dari segala dosa dan kejahatan yang membawa kehancuran, kebinasaan dan kematian kepada manusia. Dalam alasan ini Tuhan Yesus menyerahkan Diri-Nya kepada musuh-musuh-Nya dan membiarkan diri diperlakukan secara kasar dan keji oleh mereka sampai akhirnya Dia menderita hebat dan mati di kayu salib. Karena dengan cara demikian Dia mau “berbuat baik melalui penderitaan-Nya dan berbuat baik kepda mereka yang menderita” akibat dosa dan kejahatan.

Berhadapan dengan kenyataan ini, Tuhan Yesus tidak mau supaya manusia hancur binasa oleh dosa dan kejahatan. Karena itu Dia menyongsong, kesengsaraan dan kematian dengan penuh kesadaran akan perutusan-Nya. Melalui salib-Nya Dia harus menghancurkan akar-akar kejahatan yang tertanam dalam sejarah manusia dan dalam jiwa manusia-manusia. Justru harus menyelesaikan karya keselamatan. Semoga penderitaan dan kematian Kristus meneguhkan iman kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *