BERITA UTAMAMIMIKA

Tim Pemda Mimika Pulang, Berpamitan Setelah 26 Tahun Berpisah, Fakfak Merasa Mimika Tetap Jadi Anak Kandung

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
5
×

Tim Pemda Mimika Pulang, Berpamitan Setelah 26 Tahun Berpisah, Fakfak Merasa Mimika Tetap Jadi Anak Kandung

Share this article
f541ff95 b5f7 4c1a b661 0c2b92a30baf
Kemeriahan HUT Kabupaten Fakfak ke-122

Fakfak, fajarpapua.com – Setelah 26 tahun berpisah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika bersama dua suku besar Lemasa dan Lemasko akhirnya berpamitan dengan Pemkab dan tujuh raja Fakfak dalam momen hari ulang tahun (HUT) Fakfak ke-122 yang dilaksanakan Rabu (17/11/2022).

Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob menjelaskan kehadiran Pemkab dan sejumlah masyarakat Mimika ke Fakfak sebagai kunjungan balasan karena Bupati Fakfak Untung Tamsil pernah berkunjung ke Timika saat pelantikan Pengurus Kerukunan Fakfak Kabupaten Mimika.

Ads

“Kita datang di sini untuk menghadiri undangan dari Kabupaten Fakfak karena Bupati Fakfak pernah ke Timika untuk menghadiri pelantikan Pengurus Kerukunan Fakfak. Selain itu sesudah Mimika terpisah dari Fakfak 26 tahun lalu, kita belum pernah pamitan, baru kali ini kita datang pamit,” ujarnya.

Ia mengatakan, saat Mimika masih bergabung dengan Fakfak, tua-tua adat menyimpan sesuatu sebagai simbol adat Amungme dan Kamoro di Kota Pala itu.

Kehadiran Pemkab dan masyarakat Amungme dan Kamoro ini juga sebenarnya untuk mengambil simbol adat tersebut, namun ditolak oleh tujuh raja karena jika diambil maka secara adat hubungan Mimika dan Fakfak berakhir, padahal Mimika dan Fakfak sesuangguhnya ada dalam satu wilayah adat, asalnya dari satu leluhur dan Mimika merupakan anak kandung Fakfak.

“Waktu masih bergabung dengan Fakfak di sini orangtua kita ada taruh adat Amungme dan Kamoro di sini di Pulau sebelah. Lalu dibentuklah Lemasa sama Lemasko. Sebenarnya kita mau bawa pulang simbol adat ini tapi setelah duduk dalam kerapatan adat, raja-raja dari tujuh kerajaan di Fakfak menolak kita membawa pulang. Karena kalau kita bawa pulang berarti secara adat hubungan kita selesai. Tidak bisa seperti itu karena kita berada dalam satu wilayah adat, berasal dari leluhur yang sama,” ungkap JR.

Dia menyebutkan dalam kerapatan adat itu raja-raja juga menyadari sebagai orang tua yang melahiran Kabupaten Mimika seharusnya mereka berkunjung untuk mengetahui kondisi Mimika tapi selama ini tidak pernah dilakukan.

“Raja-raja juga mengakui sebagai mama yang melahirkan setelah dia berpisah seharusnya datang lihat kamu semua sehat kah tidak. Kita di Mimika sebagai anak juga tidak pernah melihat mama kita. Kunjungan kali ini merupakan kunjungan yang pertama setelah Mimika terpisahkan secara pemerintahan dari Fakfak,” ujarnya.

Sementara itu pada Kamis (17/11) tim Pemda Mimika pulang melalui penerbangan udara. Selanjutnya tim berikut pulang tanggal 18 November melalui kapal laut.(tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *