BERITA UTAMAMIMIKA

Mengenal Lebih Dekat ASF, Virus Demam Babi yang Diwaspadai Masuk Timika, Bencana Ternak Mematikan

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
30
×

Mengenal Lebih Dekat ASF, Virus Demam Babi yang Diwaspadai Masuk Timika, Bencana Ternak Mematikan

Share this article
IMG 20230212 WA0051
Ternak babi milik salah seorang warga Timika

Timika, fajarpapua.com – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Mimika secara resmi melarang pemasukan daging dan produk berbahan babi masuk Timika. Pasalnya, penyakit yang belum ada obatnya, African Swine Fever yang sering disingkat ASF sudah sampai di Makassar.

Penularan virus tersebut sangat cepat dan mengancam keselamatan ternak babi. Meskipun larangan itu akan dituangkan dalam instruksi Bupati, namun Disnakeswan sudah secara resmi meminta siapapun tidak memasukkan daging dan berbagai produk turunan berbahan babi ke wilayah Timika.

Ads

Lalu apa itu ASF? Menurut berbagai sumber, ASF adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, menyerang babi dari semua ras dan semua umur, baik babi liar maupun babi yang diternakkan. Penyakit ini dinamai demam afrika, karena pertama kali terjadi di Kenya, Afrika Timur pada tahun 1921.

Kemudian penyakit ini menyebar ke Eropa dan Asia, dan pada akhir tahun 2019, penyakit demam afrika masuk ke Indonesia, menyerang babi-babi di Sumatera Utara (Kementan No. 820 Tahun 2019).

Dalam OIE Terrestrial Manual tahun 2019 dilaporkan sudah lebih dari 50 negara terserang penyakit ini. Penyakit ASF tidak menular kepada manusia, tetapi jika terjadi akan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, karena penyakit ini mematikan ternak babi. Babi yang terserang virus ASF akan menunjukkan tanda-tanda: demam tinggi, depresi, kehilangan nafsu makan, muntah, diare, perdarahan pada kulit dan organ dalam, perubahan warna kulit menjadi ungu, abortus atau keguguran pada babi yang bunting.

Ada juga yang menunjukkan radang sendi, dan akhirnya mati. Dalam OIE Manual, 2019, kematian babi akibat ASF dapat mencapai 100% dan terkadang, kematian terjadi bahkan sebelum tanda klinis dapat diamati.

Penyebaran atau penularan penyakit ASF terjadi melalui dua rute yaitu penularan secara langsung dan secara tidak langsung. Penularan secara langsung terjadi melalui kontak fisik antara babi terinfeksi ASF dengan babi sehat, sedangkan penularan tidak langsung terjadi dengan beberapa cara, diantaranya :

  1. Melalui saluran pencernaan. Seekor babi terinfeksi virus ASF karena menelan makanan atau sampah sisa makanan yang mengandung partikel virus ASF. Konsumsi sampah sisa makanan dikenal dengan istilah swill feeding. Sampah sisa makanan dari penerbangan pesawat udara dan kapal laut yang berlayar antarnegara atau antar wilayah merupakan salah satu sumber infeksi virus ASF.

2.Melalui gigitan caplak. Virus ASF dapat hidup dalam tubuh caplak lunak dari genus Ornithodoros, seperti O. erraticus dan O. moubata. Caplak tersebut bertindak sebagai vektor biologis.

  1. Melalui kontak dengan benda mati seperti pakaian, sepatu, dan kendaran yang tercemar partikel virus ASF.

Penganganan terhadap penyakit ASF sama dengan penanganan terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus lainnya, yaitu pencegahan dan pengobatan. Pada umumnya penyakit karena virus tidak ada obatnya, tetapi dapat dicegah dengan relative mudah. Pencegahan perupakan tindakan yang penting. Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan biosekuriti

Biosekuriti adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencegah penyakit masuk ke dalam peternakan ataupun menyebar ke luar peternakan. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi tindakan-tindakan

1). Mencegah kontak langsung antara babi sehat dengan babi yang sakit.

2). Tidak memasukkan babi baru ke peternakan, apalagi babi yang berasal dari luar daerah atau babi import. Kalau harus membeli babi baru, babi tersebut perlu dikandangkan di luar peternakan untuk beberapa waktu atau dikarantina.

Pemerintah juga telah mengawasi dengan ketat pemasukan babi dari luar negeri melalui Balai Karantina kita.

3). Tidak memanfaatkan makanan sisa dari restoran, dari penerbangan atau pelayaran untuk pakan babi.

4). Menjaga sanitasi kandang dan lingkungannya supaya tidak menjadi sarang caplak, serta membersihkan kandang secara teratur dengan desinfektan atau kaporit yang merupakan salah satu bahan yang efektif dan murah untuk membasmi virus ASF.

5). Menertibkan orang yang keluar-masuk kandang, misalnya di pintu peternakan diisi tulisan “yang tidak berkepentingan dilarang masuk kandang”. Petugas kandang menggunakan pakaian dan alas kaki yang bersih dan khusus untuk di kandang. Pembeli babi tidak perlu masuk ke kandang dan kendaraan pengangkut babi harus disemprot dengan desinfektan sebelum memasuki halaman kandang.

6). Melakukan vaksinasi pada ternak secara teratur sesuai rekomendasi kesehatan hewan. Yang tidak kalah penting adalah menjaga agar babi tetap sehat, cukup pakan dan nyaman dalam kandang yang bersih, kering dan hangat.(ana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *