Pada hari Minggu (5/4), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menghasut Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menolak gagasan gencatan senjata dengan Iran. Dalam percakapan telepon tersebut, Netanyahu menyatakan keraguannya terhadap kemungkinan tercapainya perjanjian damai dengan Teheran, menegaskan bahwa konflik harus dilanjutkan.
Sementara itu, Trump menyebutkan bahwa gencatan senjata bisa saja terjadi jika Iran memenuhi tuntutan Amerika, termasuk menyerahkan seluruh uranium yang diperkaya dan berkomitmen untuk tidak melanjutkan kegiatan pengayaan uranium. Pernyataan ini menunjukkan ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut.
Keesokan harinya, Netanyahu memposting hasil komunikasi dengan Trump di platform X, memuji keberhasilan militer AS dalam menyelamatkan pilot jet tempur F-15A yang ditembak oleh pasukan Iran. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Trump atas bantuan dan keberhasilannya dalam operasi militer tersebut, serta menegaskan bahwa hubungan kedua negara semakin erat, terutama setelah aksi militer melawan Iran.
Di tengah dinamika ini, pejabat AS mengungkapkan bahwa negosiator sedang membahas kemungkinan gencatan senjata sementara selama 45 hari. Sebaliknya, Iran menolaknya mentah-mentah dan mengajukan proposal agar gencatan tersebut bersifat permanen. Iran menuntut agar AS menghentikan seluruh peperangan dan membayar ganti rugi atas kerusakan akibat serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel.
















Komentar (0)