Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan kesiapan negaranya untuk menghadapi Iran kapan saja diperlukan, meski gencatan senjata antara Tehran dan Washington telah disepakati. Dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi pada Rabu (7/4), Netanyahu menegaskan bahwa Israel tetap memiliki misi yang harus diselesaikan, termasuk upaya mengekang program nuklir Iran dan menggulingkan rezim Teheran.
Netanyahu menyatakan, “Kami siap kembali berperang kapan pun diperlukan. Jari kami tetap di pelatuk. Ini bukan akhir dari kampanye, melainkan langkah menuju pencapaian semua tujuan kami.” Ia menambahkan bahwa, meskipun ada gencatan senjata, ketegangan dan konflik di kawasan tetap menjadi prioritas utama Israel dalam menjaga keamanan nasionalnya.
Di bawah kepemimpinan Netanyahu, Israel selama ini berupaya melemahkan kemampuan Iran, termasuk penghancuran fasilitas nuklir dan rudal balistik, serta mengganti rezim di Iran. Meski demikian, Iran tetap menunjukkan kekuatan dan ketahanan, dengan meluncurkan operasi balasan besar-besaran setelah serangan Israel dan AS yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran pun memperkuat posisinya dengan memilih Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, melalui pemungutan suara Majelis Ahli.
Netanyahu yang menanggapi kritik dari oposisi yang menyebut gencatan senjata sebagai kegagalan Israel, menegaskan bahwa pihaknya tidak terkejut dengan adanya kesepakatan tersebut. Ia menyebut, komunikasi intensif antara AS dan Israel telah dilakukan untuk memastikan koordinasi yang matang. Netanyahu menyatakan, “Tadi malam, gencatan senjata sementara selama dua minggu antara AS dan Iran mulai berlaku, dan Israel sepenuhnya berkoordinasi dalam hal ini.”
Kesepakatan gencatan senjata ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk negosiasi lanjutan yang akan digelar di Islamabad, Pakistan, pada 10 April mendatang. Iran mengajukan proposal mengizinkan pengayaan uranium dan pencabutan sanksi, sementara AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan seluruh materi ke Washington. Meski begitu, ketegangan di kawasan tetap tinggi, dan berbagai pihak mengawasi perkembangan situasi ini secara ketat.















Komentar (0)