Timika, fajarpapua.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca di wilayah Papua dalam beberapa hari terakhir akan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.
Adapun kondisi cuaca ini, BMKG menjelaskan prospek cuaca tersebut diperkirakan berlaku dari tanggal 8 hingga 14 Februari 2021.
Kepala Stasiun Meterologi Kelas II Timika, Okto Firdaus Fajri Rianto, ST pada Selasa (9/2) memberi peringatan dini hujan sedang - lebat yang dapat disertai guntur pada Selasa pukul 17.05 WIT di Distrik Mimika Barat (Iwaka Temare, Wangirja, Limau Asri) dan Distrik Kuala Kencana (PT PAL, SP6, SP7). Serta dapat meluas ke Wilayah di Distrik Mimika Baru (Kota Timika, SP2, SP3, Timika Jaya). Kondisi Ini diperkirakan akan berlangsung hingga pukul 19.05 WIT.
Sementara dalam sepekan kedepan, sesuai rilis BMKG, Okto mengungkapkan wilayah Papua bagian utara pada 8 hingga 10 Februari 2021 pada umumnya cerah berawan hingga hujan lokal.
Potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah ini diperkirakan terjadi di Kabupaten Biak, Waropen, Nabire, Sarmi, Mamberamo Raya, Keerom, Kabupaten dan Kota Jayapura.
Sedangkan pada tanggal 11 hingga 14 Februari 2021, pada umumnya wilayah tersebut berawan hingga hujan lokal. Namun potensi hujan ringan hingga lebat dapat terjadi di wilayah Kabupaten Biak, Kepulauan Yapen, Waropen, Nabire, Sami, Mamberamo Raya, Keerom, Kabupaten dan Kota Jayapura.
Di wilayah Papua bagian tengah, pada 8 sampai 14 Februari 2021 pada umumnya berawan hingga hujan lokal. Sedangkan potensi hujan sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah Pegunungan Tengah Papua.
Sementara Wilayah Papua bagian selatan, pada 8 hingga14 Februari 2021 pada umumnya cerah berawan hingga hujan lokal. Namun potensi hujan ringan hingga lebat di wilayah Kabupaten Asmat, Mappi, Merauke, Boven Digoel, dan Mimika.
Selanjutnya Okto juga menjelaskan prospek tinggi gelombang dalam sepekan mendatang di sejumlah perairan di Papua.
Dijelaskan, kategori gelombang antara 0,25 sampai 1,25 meter pada tanggal 8 hingga 10 Februari 2021 dapat terjadi di Teluk Cendrawasih, Perairan Biak, Perairan Jayapura – Sarmi, Perairan Agats – Amamapare, Yos Sudarso, Perairan Merauke, Laut Arafuru bagian timur, dan Laut Arafuru selatan Merauke.
Kategori gelombang 0,25 sampai 1,25 meter pada 11 hingga 14 Februari 2021 diperkirakan terjadi di Teluk Cendrawasih, Perairan Biak, Perairan Jayapura – Sarmi, Samudera Pasifik utara Jayapura, Perairan Agats – Amamapare, Yos Sudarso, Perairan Merauke, Laut Arafuru bagian timur, dan Laut Arafuru selatan Merauke.
Sementara kategori gelombang dengan tinggi 1,25 hingga 2,50 meter pada 8 hingga 14 Februari 2021 terjadi di Perairan Biak, Perairan Jayapura – Sarmi, Samudera Pasifik utara Biak, Samudera Pasifik utara Jayapura, Perairan Agats – Amamapare, Laut Arafuru bagian timur, dan Laut Arafuru selatan Merauke.
Sedangkan kategori gelombang antara 2,50 hingga 4,00 meter pada 8 hingga 10 Februari 2021 terjadi di perairan Laut Arafuru bagian timur, dan Laut Arafuru selatan Merauke.
Sementara angin wilayah Papua bagian utara umumnya bertiup dari arah Barat Laut – Timur dengan kecepatan angin berkisar antara 5 hingga 25 km/Jam dan di wilayah Papua bagian selatan umumnya bertiup dari Selatan – Utara dengan kecepatan 05 – 25 km/Jam.
Terkait kondisi cuaca ini, lebih lanjut, Okto memberikan himbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati.
Untuk wilayah Papua yang berada pada ZOM 341, 339 dan 342 berada pada periode puncak musim hujan, wilayah tersebut diantaranya adalah Kota Jayapura, Keerom bagian utara, Kabupaten Jayapura bagian Timur Laut, Kabupaten Jayapura, Sami bagian Selatan dan Tenggara, Tolikara bagian Utara dan Timur Laut, Waropen bagian Tenggara, Jayawijaya bagian Timur Laut dan Merauke. Pada musim hujan potensi kejadian hujan lebat akan mengalami peningkatan.
Masyarakat juga dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan akan potensi kejadian bencana hidrometeorologi apabila terjadi hujan lebat dan angin kencang.
BMKG meminta masyarakat memperhatikan resiko tinggi gelombang terhadap keselamatan pelayaran.
Ditegaskan perahu nelayan diminta tidak beroperasi jika kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter.
Sedangkan untuk Kapal Tongkang tidak diperkenankan berlayar jika kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter.
Kapal Ferry, menurut BMKG jika kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi.(tim)

