Lewati ke konten utama

Ratusan Warga Distrik Mimika Tengah Gelar Pesta Karapao, Yogi : Potensi Wisata Datangkan PAD Mimika

Redaksi FPPenulis
21.22 WIT2 menit baca25 dibaca
Kadistrik Mimika Tengah, Samuel Yogi SH,MH saat acara karapao.
Kadistrik Mimika Tengah, Samuel Yogi SH,MH saat acara karapao.Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com - Sebanyak lebih dari 600-an warga lima kampung di Distrik Mimika Tengah (Mikteng) Kabupaten Mimika pada 30 November 2021 lalu menggelar pesta karapao berpusat di Kampung Kamora.

Kepala Distrik Mimika Tengah, Semuel Yogi, SH,MH ketika dikonfirmasi fajarpapua.com, Senin (6/12) mengemukakan, pesta karapao tersebut merupakan rutinitas tahunan yang dilaksanakan warga suku Kamoro wilayah itu.

"Tahun 2020 kita tunda karena pandemi covid-19 dan baru terlaksana sekarang. Ini menjadi agenda tahunan supaya warisan leluhur ini tetap dilestarikan," ungkap Yogi.

Ia mengemukakan pesta karapao digelar bersamaan dengan kegiatan kunjungan kerja sekaligus koordinasi tingkat kampung.

"Saya turun ke kampung-kampung dan bersamaan dengan itu kami gelar pesta karapao di Kamora. Dari Mimika bisa ditempuh jalan darat, jaraknya sekitar 4 kilometer," pungkasnya.

Mengingat pesta Karapao unik, Yogi berharap pesta adat suku Kamoro itu menjadi potensi wisata yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Mimika.

Karapao ialah upacara inisiasi (akil baliq) bagi anak-anak. Inisiasi dilakukan di dalam rumah panjang, berdinding anyaman daun pandan, beratap daun nipah.

Rumah Karapao itu panjangnya bergantung pada jumlah anak yang akan diinisiasi menjadi akil balig. Setiap keluarga mendiami sebuah pintu, tetapi di dalamnya sepanjang 40 meter tidak ada sekat pemisah.

Di bagian depan Karapao, persis di tengah-tengah, berdiri sebuah Mbitoro (patung-patung leluhur) yang tinggi menjulang. Upacara yang meriah itu berlangsung beberapa hari, mirip sebuah karnaval.

Tifa ditabuh, tarian-tarian dipertunjukkan dan nyanyian yang dipimpin seorang ahli (Ndikiarawe) menggema sepanjang upacara.

Tubuh anak-anak yang diinisiasi dilukis dengan jelaga, kapur, dan berbagai warna alami yang terbuat dari dedaunan dan biji-bijian.

Tiang-tiang besar diukir menjadi Mbitoro yang dilukis. Mbitoro diarak keliling kampung sebelum akhirnya diikat di depan Karapao. Pendirian Mbitoro bertujuan mendatangkan kembali kekuatan dan kebijaksanaan dari seorang leluhur.(red)

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.