BERITA UTAMAPAPUA

Belum Distribusi ke Klinik Swasta, Obat Malaria “Biru” Jenis Darplex Kini Kembali Tersedia di Pusat Kesehatan

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
43
×

Belum Distribusi ke Klinik Swasta, Obat Malaria “Biru” Jenis Darplex Kini Kembali Tersedia di Pusat Kesehatan

Share this article
IMG 20220810 WA0059
Staf Dinkes Jayapura saat pertemuan bahas kasus malaria.

Jayapura, fajarpapua.com – Stok obat malaria “biru” di wilayah Papua sempat kosong selama tiga bulan. Baik Jayapura, Timika, dan daerah lainnya, sempat bergantung pada obat kina.

Khusus di Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dikabarkan stok obat malaria jenis Darplex (DHP), saat ini sudah tersedia di beberapa pusat kesehatan.

Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya
Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya

“Untuk stok obat malaria jenis Darplex sudah tersedia 5000 paket lagi, jadi aman penggunaannya sampai Agustus ini,” ujar Kepala Bidang Pencegahan Dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Pungut Sunarto, Rabu (10/8/2022).

Ia mengatakan, ribuan paket obat malaria ini telah diterima dari Kementerian Kesehatan RI dengan dua tahap yang dikirim melalui jalur penerbangan, yang dipastikan aman hingga bulan Agustus tahun 2022.

Pungut menyampaikan, obat malaria yang ada saat ini masih diperuntukan bagi pusat kesehatan milik Pemkab Jayapura, sedangkan untuk klinik swasta belum bisa untuk distribusikan.

“Ketersediaan obat malaria masih terbatas ya. Memang stok kami katakan aman, tapi belum bisa disalurkan ke klinik swasta karena fokuskan faskes di pemerintahan maupun rumah sakit dan kader-kader di Kampung-kampung,” ujarnya.

Menurut Pungut, jumlah kasus malaria di Kabupaten Jayapura cukup tinggi dan berada pada peringkat ketiga di Papua, sehingga Dinkes akan melakukan penemuan serentak bersama para kader malaria di kampung dalam penyediaan obat perbulannya sebanyak 20.000 paket obat malaria.

“Kita membutuhkan obat malaria setiap bulan 20.000 paket yang belum bisa mencukupi dalam pengendalian kasus malaria apalagi dilihat jumlah kasus malaria pada bulan September,” ucap Pungut.

Diharapkan agar pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI yang mengatur ketersediaan obat malaria agar tidak terjadi kekosongan obat malaria line satu.

Ia menambahkan, kekosongan obat malaria jenis Darplex ini terjadi karena ada masalah Covid-19 di negara Cina sebagai penyedia obat malaria.(hsb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *