Jayapura, fajarpapua.com – Pembangunan pendidikan di Kabupaten Jayapura masih menyisakan potret yang memprihatinkan. Salah satunya terjadi di Sekolah Dasar Negeri Benggawin Progo yang terletak di Kampung Benggawin Progo, Distrik Kemtuk.
Sekolah yang berdiri sejak 2015 itu menjadi sorotan karena para siswanya harus belajar di ruang kelas berlantai tanah dan berdinding papan kayu seadanya. Atapnya hanya terbuat dari seng, sementara fasilitas belajar sangat terbatas. Meski demikian, semangat anak-anak untuk menuntut ilmu tetap menyala di tengah segala keterbatasan.
Sejumlah siswa mengikuti pelajaran di ruang kelas sederhana beralaskan papan, berdinding kayu yang mulai lapuk, tanpa pendingin udara, dan sebagian meja serta kursi sudah rusak. Kondisi ini menjadi potret nyata perjuangan pendidikan di pelosok Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura, di mana semangat belajar jauh melampaui keterbatasan sarana.
Kondisi sekolah tersebut diketahui saat Bupati Jayapura Yunus Wonda melakukan kunjungan kerja bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ke Kampung Benggawin Progo belum lama ini.
Puluhan murid SDN Benggawin Progo tetap belajar dengan kondisi bangunan yang jauh dari standar kelayakan. Para siswa dan guru menyampaikan permohonan agar pemerintah memberi perhatian untuk menyediakan fasilitas belajar yang lebih layak.
Bupati Jayapura Yunus Wonda mengaku sangat prihatin melihat langsung kondisi sekolah itu. Ia menilai bangunan SDN Benggawin Progo sudah tidak layak dijadikan tempat belajar.
Setelah meninjau lokasi, Yunus langsung menghubungi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura untuk segera mengambil langkah antisipasi terhadap kondisi bangunan sekolah tersebut.
“Sekolah itu memang berada di pedalaman atau perkampungan sehingga kurang tersentuh pembangunan, tetapi letaknya sebenarnya masih di wilayah perkotaan. Padahal sekolah sudah berdiri sejak tahun 2015,” ujar Yunus Wonda, Selasa (11/11/2025).
Menurut laporan kepala sekolah dan kepala kampung, satu ruang kelas digunakan untuk dua rombongan belajar. Sekolah juga belum memiliki ruang guru maupun rumah dinas. Meski sudah beberapa kali dilaporkan, belum ada perhatian maupun bantuan dari pihak terkait.
“Para guru bahkan harus menjual hasil kebunnya, seperti cabai, untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajar, termasuk membeli spidol dan buku. Saya sangat sedih melihat sekolah ini. Letaknya tidak jauh, hanya sekitar satu jam dari Sentani, tapi seolah-olah tidak pernah diperhatikan pemerintah,” jelas Yunus.
Bupati meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura segera menindaklanjuti keluhan para murid, guru, dan masyarakat. Ia berharap ada penambahan ruang kelas, karena saat ini sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas yang berdinding kayu dan beralaskan tanah.
“Kondisi seperti ini membuat kita malu. Masa bertahun-tahun bangunan sekolah dibiarkan seperti itu, padahal dibangun hasil swadaya orang tua murid. Saya minta pembangunan gedung sekolah tersebut segera diprogramkan, karena sektor pendidikan di Kabupaten Jayapura tidak boleh terhambat akibat infrastruktur yang tidak layak,” tegasnya.
(hsb)

