Penulis : Mustofa (Pemred www.fajarpapua.com)
11 FEBRUARI 2026, sepekan lalu fakta kebiadapan ditunjukkan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dari Batalion Kanibal dan Batalion Semut Merah yang dipimpin oleh Elkius Kobak di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.
Ya! Kelompok yang mengklaim diri sebagai pejuang kemerdekaan Bangsa Papua ini menunjukkan perilaku mereka yang diluar batas kemanusiaan.
Tidak hanya menembak mati kru pesawat milik PT Smart Air Aviation dengan nomor registrasi PK-SNR, Pilot Capt. Egon Erawan dan Co. Pilot Baskoro, mereka bahkan masih sempat membacok tubuh yang sudah mati itu dengan kapak. Biadap!
Apa yang dilakukan kelompok yang pendukungnya selalu meneriakkan Junjung Hak Asasi Manusia sangat ironis dengan jasa dua orang yang merekai bantai
Ya... Ironis! Di tanah yang masih banyak berharap pada bantuan dari udara, justru KKB yang membawa harapan itu yang tumbang lebih dulu.
Patut dicatat, seorang pilot penerbangan perintis terbang bukan dengan senjata, melainkan dengan logistik.
Ia membawa beras, bukan peluru. Ia mengangkut obat, bukan ancaman.
Namun di langit yang seharusnya netral bagi kemanusiaan, para pilot pesawat perintis ini diperlakukan seolah sebagai seorang musuh yang harus mereka musnahkan.
Tragedi yang merenggut nyawa Capt. Egon Erawan dan rekannya Capt. Baskoro menjadi potret ironi yang getir: mereka hadir untuk menghubungkan wilayah terisolasi, tetapi justru diputus dari hidupnya sendiri.
Mereka mengantar kebutuhan dasar bagi masyarakat pedalaman Papua, namun tidak diberi ruang aman untuk sekadar pulang ke keluarganya.
Ironi semakin terasa ketika KKB dengan santainya menuding kedua pilot yang mereka renggut hidupnya sebagai seorang anggota intelejen yang menyamar.
Dan anehnya, tudingan dan tuduhan itu dilontarkan KKB tanpa dasar—seolah profesi kemanusiaan dapat dengan mudah diubah menjadi narasi konflik.
Padahal mereka adalah pekerja sipil, bukan bagian dari peperangan mana pun.
Mereka terbang untuk memastikan anak-anak tetap bisa makan, orang sakit tetap mendapat obat, dan kampung-kampung terpencil tetap terhubung dengan dunia luar.
Di satu sisi, semua pihak berbicara tentang kemanusiaan.
Di sisi lain, darah pekerja kemanusiaan tertumpah di tanah yang sama.
Apa jadinya jika rasa takut membuat penerbangan perintis berhenti? Siapa yang akan menjangkau wilayah yang hanya bisa disentuh lewat udara? Siapa yang akan mengantar bantuan ketika jalur darat tak mungkin dilalui?
Ironinya, ketika negara dan masyarakat membutuhkan pengabdian mereka, justru keselamatan mereka belum sepenuhnya terjamin.
Langit Papua seharusnya menjadi jalur harapan. Namun hari itu, ia menjadi saksi bisu kehilangan.
Dan di balik semua itu, ada keluarga yang menunggu di rumah—yang kini hanya bisa menatap langit yang sama, dengan doa dan rindu yang tak pernah selesai.
Tuntut Keadilan Bagi Sang Bapak
Sepekan sejak kepergian ayahanda , putra pilot Smart Air, Cat. Egon Erawan, meluapkan rasa luka dan rasa marahnya akan tragedi yang dialami sang ayah dan rekan kerjanya.
Kemarahan itu diungkapkan lewat catatan di akun media sosialnya. Dan inilah curhatan anak Kapten Egon Erawan:
"Bapak Terbang untuk Kemanusiaan”
Saya adalah anak dari Egon Erawan. Dengan hati yang hancur, saya menuliskan ini sebagai suara dari seorang anak yang kehilangan ayahnya.
Pada 11 Februari 2026, hidup kami berubah untuk selamanya. Bapak saya dan Baskoro menjadi korban kekerasan yang tidak pernah kami bayangkan akan terjadi.
Apa yang terjadi hari itu bukan sekadar pembunuhan. Itu adalah tindakan keji terhadap pekerja sipil yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Bapak saya bukan agen intelijen. Bapak saya bukan bagian dari konflik bersenjata.
Tuduhan yang dilontarkan oleh kelompok separatis bersenjata seperti Organisasi Papua Merdeka atau yang sering disebut Kelompok Kriminal Bersenjata adalah fitnah yang tidak berdasar.








