Amerika Serikat dikabarkan akan mengerahkan sekitar 3.000 personel pasukan terjun payung ke wilayah Timur Tengah dalam rangka menjaga keamanan dan kesiapan menghadapi ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut. Rencana ini mencakup tiga batalion dari Divisi Lintas Udara ke-82, yang diperkirakan akan segera dikirim ke zona konflik.
Menurut sumber terpercaya, meski belum ada perintah resmi dari pemerintah Amerika Serikat, Divisi Lintas Udara ke-82 mampu melakukan pengerahan dalam waktu 18 jam setelah mendapatkan instruksi. Dua sumber lain menyebutkan bahwa sekitar 1.000 tentara dari divisi ini akan mulai dikirim dalam beberapa hari ke depan, termasuk Komandan Divisi Mayjen Brandon Tegtmeier, staf divisi, dan satu batalion Tim Tempur Brigade yang bertugas sebagai Pasukan Respons Cepat (IRF).
Pasukan IRF ini dikenal sebagai pasukan yang dapat dikerahkan dalam waktu singkat dan pernah aktif saat operasi penangkapan Mayor Jenderal Qasem Soleimani di Irak pada 2020. Sumber mengungkapkan unsur-unsur awal dari divisi tersebut mulai dipersiapkan untuk berangkat dalam waktu satu minggu, sementara unsur lainnya kemungkinan menyusul sesuai kebutuhan.
Rencana pengiriman pasukan ini muncul di tengah ketegangan yang terus memuncak antara AS, Israel, dan Iran. Sejak 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas Iran, yang kemudian dibalas Tehran dengan serangan terhadap Israel dan aset Amerika di negara-negara Teluk. Langkah ini menunjukkan kesiapsiagaan AS untuk merespons dinamika konflik di kawasan tersebut.

