Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran meluncurkan serangkaian rudal ke negara-negara Arab, termasuk Israel dan basis militer AS di Kuwait, Yordania, serta Bahrain, pada Rabu (25/3). Serangan ini terjadi saat Presiden AS Donald Trump memberi sinyal positif terkait perkembangan negosiasi dengan Teheran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa gelombang rudal tersebut merupakan balasan atas operasi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel. Beberapa insiden terkait turut dilaporkan, seperti drone yang menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, serta sirene alarm di Bahrain dan serpihan proyektil yang jatuh dekat ibu kota Amman, Yordania. Selain itu, Arab Saudi mengklaim telah menembak jatuh minimal empat drone di wilayah timur negara itu.
Sementara itu, Israel menegaskan mereka melakukan serangan balik terhadap infrastruktur Iran di Jalur Gaza setelah mendeteksi peluncuran rudal terbaru. Di tengah kondisi yang makin memanas, Trump menyatakan bahwa Washington sedang bernegosiasi dengan Iran dan menganggap peristiwa tersebut sebagai 'hadiah besar' dari Teheran, meskipun ia tidak menjelaskan detailnya.
Perkembangan ini berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi pusat perhatian internasional. Iran, melalui Organisasi Maritim Internasional, menjamin keamanan jalur tersebut bagi kapal non-musuh, namun menegaskan bahwa kapal milik AS dan Israel tidak akan diizinkan melintas. Meskipun ada sinyal positif dari diplomasi, AS dikabarkan tetap berencana mengerahkan tambahan sekitar 3.000 tentara ke Timur Tengah.

