Dalam dinamika politik Inggris yang kian memanas, Perdana Menteri Keir Starmer diisukan mempertimbangkan langkah mundur apabila calon rivalnya, Walikota Greater Manchester, memenangkan pemilihan sela di Makerfield yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang. Meski resmi dari Downing Street menegaskan bahwa Starmer akan tetap bertahan, sumber internal kabinet mengungkapkan ketidakpastian dan ketidakyakinan terhadap kepemimpinannya.
Sumber dari kalangan dalam pemerintahan menyebutkan bahwa Starmer dianggap kurang tegas dan selalu berusaha mencari solusi terbaik untuk stabilitas negara. Sebuah menteri dari kabinet yang tetap loyal kepada Starmer mengungkapkan, "Dia tidak pernah menunjukkan sikap menentang secara tegas, melainkan berupaya menjaga kestabilan dan mempertimbangkan semua opsi."
Situasi ini memicu desakan agar Starmer tidak mengumumkan pengunduran diri sebelum hasil pemilihan sela diumumkan, demi menghindari kekacauan di internal Partai Buruh. Faksi-faksi berbeda di partai pun mulai bersiap dengan kemungkinan munculnya kubu pro dan kontra yang dapat memicu perpecahan lebih dalam. Meski demikian, keputusan mundur diyakini tidak akan diambil sebelum hasil akhir pemilihan diumumkan.
Sementara itu, tantangan politik tidak berhenti di situ. Partai Buruh tengah bersiap menghadapi kompetisi sengit melawan Partai Reform UK yang dipimpin Nigel Farage, yang meraih 50 persen suara di pemilihan lokal terbaru. Farage menegaskan akan mengerahkan puluhan aktivis untuk menghalangi langkah Andy Burnham, kandidat yang diusulkan untuk menggantikan posisi di Makerfield, jika terpilih. Dengan pemilihan yang tinggal beberapa minggu lagi, ketegangan politik Inggris semakin memuncak.








