Lewati ke konten utama

Pendiri Ob Anggen School Bokondini: Penembakan Pilot AMA Ancam Masa Depan Pendidikan dan Pelayanan Kemanusiaan di Papua

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
18.37 WIT3 menit baca146 dibaca
Scotty Wisely
Scotty WiselyFoto / Pendidikan
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Penembakan terhadap pilot PT Asian Mission Aviation (AMA), Capt. Nicholas F. Gosselin atau Nick, di Yahukimo menuai keprihatinan mendalam dari Scotty Wisely, pendiri Ob Anggen School di Bokondini, Papua.

Dalam video yang diunggah di laman Facebook Ob Anggen School Papua yang diperoleh fajarpapua.com, Sabtu (4/7), Scotty Wisely yang juga seorang pendeta ini mengungkapkan insiden tersebut bukan hanya merenggut nyawa seorang pilot misionaris, tetapi juga mengancam keberlangsungan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan bagi masyarakat di wilayah pedalaman Papua.

Dalam pernyataannya, Scotty yang saat ini sedang berada di kediamannya di Amerika Serikat, mengaku banyak pihak menyarankan agar dirinya dan tim tidak kembali ke Papua karena situasi keamanan yang dinilai semakin berbahaya.

Namun, ia menegaskan sebagian besar masyarakat Papua yang selama ini mereka layani justru menginginkan kehadiran para guru, tenaga kesehatan, dan misionaris.

"Hampir semua orang di sini mengusulkan kami untuk tidak kembali ke Papua karena tidak ada yang bisa melindungi kami. Padahal, 99 dari 100 orang lokal yang kami kenal adalah orang-orang baik, penuh kasih, bertanggung jawab, pekerja keras, dan ingin anak-anak mereka mendapatkan pendidikan serta pelayanan," ujarnya.

Menurut Scotty, tindakan segelintir pelaku kekerasan telah menciptakan ketakutan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Ia menilai satu tindakan kejahatan mampu merusak kepercayaan dan masa depan banyak orang.

Ia juga mengajak masyarakat Papua, khususnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, untuk tidak membiarkan kekerasan terus merusak citra Papua di mata dunia.

"Politik adalah hal yang penting, tetapi harus dijalankan dengan cara yang sesuai dengan ajaran Yesus. Jangan biarkan kejahatan merusak masa depan anak-anak Papua," katanya.

Scotty mengenang Capt. Nicholas sebagai sosok yang selama ini mendedikasikan hidupnya untuk melayani masyarakat di daerah terpencil.

Menurutnya, organisasi penerbangan misi tidak terlibat dalam konflik politik maupun operasi militer, melainkan mengangkut misionaris, tenaga kesehatan, guru, logistik kemanusiaan, dan warga sipil yang membutuhkan akses transportasi.

Ia menyayangkan adanya tuduhan terhadap para pilot, guru, maupun tenaga kesehatan sebagai bagian dari pemerintah atau mata-mata, yang kemudian dijadikan alasan untuk melakukan serangan.

"Anak-anak menangis karena kehilangan guru, orang sakit dan ibu hamil kehilangan akses pelayanan kesehatan. Sementara mayoritas masyarakat dan para pemimpin gereja justru meminta kami tetap melayani," ungkapnya.

Scotty mengungkapkan telah beredar ancaman agar seluruh pelayanan pendidikan, kesehatan, dan transportasi di wilayah Pegunungan Papua dihentikan.

Ancaman tersebut membuat banyak relawan dan pekerja kemanusiaan harus mempertimbangkan kembali keselamatan mereka.

"Siapa yang harus kami dengarkan? Orang-orang yang mengancam dengan senjata atau tangisan anak-anak dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan?" katanya.

Ia mengakui kematian Capt. Nicholas membuat dirinya semakin bergumul untuk kembali bertugas ke Papua.

Meski demikian, ia mengatakan tetap berdoa agar mampu mengampuni dan menjalankan panggilan pelayanannya.

"Saat ini eksekusi Nick memadamkan semua antusiasme saya untuk kembali ke Papua minggu depan. Saya berdoa agar tetap mampu mengampuni dan pergi dalam kuasa Tuhan," tuturnya.

Scotty berharap tragedi yang menimpa Capt. Nicholas menjadi momentum bagi semua pihak untuk menghentikan kekerasan terhadap pekerja kemanusiaan.

Menurutnya, ketika pelayanan pendidikan, kesehatan, dan transportasi terhenti, pihak yang paling menderita adalah masyarakat pedalaman Papua, terutama anak-anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik. (mas)