Lewati ke konten utama

Warga Maluku di Jayapura Gelar Tradisi Pukul Sapu Meriahkan Perayaan 7 Syawal

RedaksiPenulis
06.22 WIT2 menit baca56 dibaca
image
imageFoto / Papua
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Tradisi budaya baku pukul sapu atau pukul sapu lidi kembali meriahkan perayaan 7 Syawal di Kota Jayapura.

Warga Maluku, khususnya asal Maluku Tengah seperti Desa Mamala dan Morela, menggelar ritual adat tersebut di Taman Imbi, Sabtu (28/3), dengan penuh semangat dan antusiasme.

Tradisi yang rutin dilaksanakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri ini menjadi simbol pelestarian budaya leluhur yang tetap dijaga oleh masyarakat perantauan.

Meski berada jauh dari tanah asal, nilai-nilai adat tetap dihidupkan melalui kegiatan yang sarat makna tersebut. Sekretaris Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Pusat di Tanah Papua, Haris Siloe, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan tradisi ini di Jayapura.

Menurutnya, baku pukul sapu merupakan agenda tahunan yang tidak hanya dilaksanakan di Papua, tetapi juga secara serentak di Maluku dan telah menjadi bagian dari kalender festival pariwisata daerah.

“Tradisi ini sudah dilakukan sejak dulu oleh para pemuda dan tidak bisa ditunda pelaksanaannya karena berkaitan dengan adat. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk menjaga warisan budaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, makna utama dari tradisi pukul sapu adalah menunjukkan ketangguhan dan keberanian para pemuda.

Meski secara fisik terlihat keras karena saling memukul menggunakan lidi, kegiatan ini justru mengandung nilai persaudaraan yang kuat.

Peserta yang mengalami luka akibat pukulan akan diobati menggunakan ramuan tradisional seperti minyak khusus dan daun jarak, sehingga luka dapat sembuh tanpa meninggalkan bekas.

Hal ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal dalam tradisi tersebut.

Ketua Morela, Ilham, yang turut hadir bersama peserta lainnya, mengatakan tradisi ini merupakan simbol identitas budaya masyarakat Maluku.

Ia menegaskan, tidak ada rasa dendam setelah pelaksanaan baku pukul sapu.

“Walaupun sakit, ini adalah adat. Setelah selesai, semua kembali seperti biasa, tidak ada permusuhan. Justru ini mempererat persaudaraan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi ini terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut serta, sebagai bentuk pengenalan budaya kepada masyarakat luas.

Pelaksanaan baku pukul sapu di Jayapura tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mempererat solidaritas antarwarga Maluku di perantauan, sekaligus memperkaya keberagaman budaya di Tanah Papua. (hsb)

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.