Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Iran telah menyampaikan bahwa negaranya berada dalam kondisi kritis yang disebutnya sebagai ‘kondisi kolaps’. Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump menyebut bahwa Iran ingin AS membuka kembali Selat Hormuz secepatnya, sambil berupaya menyelesaikan persoalan kepemimpinan internal.
Trump tidak menjelaskan secara detail bagaimana pesan tersebut disampaikan maupun siapa pihak yang menyampaikannya. Klaim ini muncul di tengah ketidaksepakatan Iran terhadap proposal terbaru untuk melanjutkan perundingan damai di Islamabad, Pakistan, yang saat ini tersendat. Iran lebih memusatkan negosiasi pada Selat Hormuz dan mengabaikan diskusi tentang program nuklir, yang menjadi fokus utama AS sejak akhir Februari.
Di tengah ketegangan itu, pejabat AS menyatakan bahwa mereka tetap berpegang pada garis merah dalam negosiasi, dan Presiden Trump menegaskan hanya akan menyetujui kesepakatan yang menguntungkan rakyat Amerika dan dunia. Sementara itu, Iran menepis anggapan bahwa kepemimpinan mereka tengah runtuh, dengan menunjukkan persatuan melalui pernyataan media sosial dan peringatan akan adanya balasan jika terjadi aksi militer.
Situasi ini semakin kompleks karena tenggat waktu 1 Mei yang diberikan oleh Undang-Undang Kekuatan Perang AS kepada Trump untuk mendapatkan persetujuan Kongres dalam melanjutkan operasi militer ke Iran. Hingga batas waktu tersebut, belum ada kepastian apakah Trump akan mendapatkan restu untuk melanjutkan konflik, sementara ketegangan di kedua negara tetap tinggi.








Komentar (0)