Teheran menuding Amerika Serikat sebagai aktor utama di balik serangan drone dan rudal yang menghantam kilang minyak Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin, 4 Mei. Pejabat militer Iran yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan bahwa Iran sama sekali tidak merencanakan serangan terhadap fasilitas energi tetangganya tersebut.
Dalam pernyataannya, pejabat Iran menegaskan bahwa serangan itu merupakan hasil dari aksi militer AS yang bertujuan menciptakan jalur ilegal untuk kapal melalui Selat Hormuz. Ia menuntut AS bertanggung jawab penuh atas insiden yang menimbulkan kerusakan di kawasan strategis tersebut.
Situasi semakin memanas setelah UEA menuding Iran sebagai pelaku serangan, yang dilakukan melalui drone dan pesawat tak berawak. Serangan ini terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan kapal perang AS untuk menjauh dari wilayah tersebut, dan dua rudal dilaporkan menghantam fregat AS di dekat Pulau Jask, Iran, meski militer AS membantah tuduhan ini.
Serangan drone dan rudal kemudian menyebabkan kebakaran besar di Zona Industri Perminyakan Fujairah, menimbulkan luka pada tiga warga negara India dan mengancam operasi industri minyak di kawasan tersebut. Sistem pertahanan udara UEA dikabarkan mampu mencegat 12 rudal balistik yang diluncurkan dari Iran, sementara pemerintah UEA mengecam keras serangan yang dianggap sebagai aksi terorisme dan tidak beralasan tersebut.
Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri UEA menegaskan bahwa negara mereka tidak akan mentolerir ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan nasional, serta memperingatkan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk menanggapi insiden ini secara sah.








Komentar (0)