Informasi terbaru mengungkapkan bahwa tidak semua fasilitas nuklir Iran hancur total setelah serangan militer oleh AS dan Israel, berbeda dengan klaim tegas dari Presiden AS Donald Trump dan Pentagon yang menyatakan kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan sepenuhnya.
Berdasarkan citra satelit terbaru, sejumlah fasilitas utama Iran yang terkait dengan program nuklir tetap dapat bertahan dari serangan tersebut. Laporan menyebutkan bahwa beberapa lokasi penting, termasuk fasilitas penyimpanan uranium dan tambang uranium di Saghand, masih menunjukkan keberlanjutan aktivitas. Bahkan, alat berat di tambang uranium tersebut masih beroperasi, menandakan proses produksi masih berlangsung di tengah kerusakan sebagian besar fasilitas lainnya.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Fasilitas Konversi Uranium Isfahan, pusat pemurnian bahan nuklir yang menjadi target utama Israel dan AS. Setelah serangan, Iran diketahui menutup akses ke terowongan bawah tanah di dekat fasilitas tersebut, namun citra satelit menunjukkan bahwa potensi keberadaan bahan berharga di bawah tanah tetap ada, menunjukkan bahwa kontrol penuh terhadap fasilitas ini belum tercapai.
Meski begitu, sumber intelijen mengindikasikan bahwa program nuklir Iran secara umum tidak mengalami perubahan signifikan. Mereka menilai bahwa target utama yang sulit dihancurkan — seperti fasilitas penyimpanan dan proses pemurnian uranium — masih aktif, dan Iran diperkirakan mampu memproduksi uranium tingkat bom dalam waktu tiga hingga enam bulan. Presiden Trump dan pejabat AS lainnya menegaskan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, meskipun kenyataannya program tersebut tampaknya tetap berjalan di balik kerusakan yang terjadi.
Di tengah dinamika ini, kebijakan Iran yang menentang penggunaan nuklir tetap berlaku, dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya mengeluarkan fatwa haram terhadap senjata nuklir. Namun, setelah kematian Khamenei akibat serangan udara AS dan Israel, masih belum jelas apakah fatwa tersebut akan dilanjutkan oleh penggantinya, Mojtaba Khamenei, putra Khamenei.








Komentar (0)