Jayapura, fajarpapua.com – Gubernur Papua Matius D. Fakhiri mengusulkan penambahan kapasitas pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan pembangunan depot penyimpanan di sejumlah kabupaten guna mempercepat penerapan program BBM Satu Harga di wilayah Papua.
Usulan tersebut disampaikan sebagai upaya memperkuat sistem distribusi energi, terutama ke daerah-daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan akses transportasi.
Fakhiri mengatakan, hasil kunjungan kerja ke Kabupaten Waropen, Kepulauan Yapen, dan Biak Numfor menunjukkan kapasitas penyaluran BBM masih perlu ditingkatkan agar distribusi ke wilayah lain berjalan lebih lancar.
"Hasil kunjungan kami ke Waropen, Kepulauan Yapen, dan Numfor menunjukkan kapasitas penyaluran BBM masih perlu ditingkatkan. Jika titik distribusi diperkuat, pasokan ke wilayah lain akan lebih lancar," ujarnya di Jakarta, Selasa (30/6).
Ia menjelaskan, keterlambatan distribusi menjadi salah satu penyebab harga BBM di sejumlah daerah terpencil melampaui harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Sebagai contoh, di Kabupaten Mamberamo Raya harga BBM yang seharusnya sekitar Rp9.000 per liter dapat meningkat hingga sekitar Rp15.000 per liter akibat terganggunya pasokan.
"Kondisi ini tentu sangat memberatkan masyarakat. Karena itu, langkah yang harus dilakukan lebih dulu adalah menambah kapasitas pasokan agar distribusi tidak lagi terlambat. Setelah itu, kami terus mendorong agar program BBM Satu Harga bisa diterapkan secara menyeluruh di Papua," tuturnya.
Selain meningkatkan pasokan, Pemerintah Provinsi Papua juga mengusulkan pembangunan depot BBM di sejumlah kabupaten sebagai pusat penyimpanan cadangan. Keberadaan depot diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok sekaligus mempercepat distribusi ke wilayah yang selama ini kerap mengalami keterlambatan pasokan.
Fakhiri berharap pemerintah pusat bersama PT Pertamina mempercepat penguatan infrastruktur distribusi energi di Tanah Papua agar harga BBM lebih stabil dan masyarakat di daerah terpencil memperoleh akses energi dengan harga yang terjangkau. (hsb)










