Timika, fajarpapua.com – Anggota kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diduga menculik sembilan perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, disebut sudah meninggalkan wilayah tersebut dan bergerak menuju Distrik Alama, Jumat (21/8).
Salah seorang warga Jila, Pinus Katagame mengatakan, para pelaku yang sebelumnya menembak aparat TNI dan warga sipil pada 17 Agustus 2026 itu turutserta membawa sembilan perempuan yang diculik.
“Informasi yang kami dapat, mereka hari ini keluar dari Distrik Jila menuju Kampung Bela, Distrik Alama. Sembilan perempuan yang disandera juga dibawa paksa menuju Alama,” kata Pinus.
Menurut dia, informasi mengenai pergerakan kelompok tersebut diperoleh dari wilayah Distrik Eralmakawia.
"Kami minta aparat keamanan segera menindaklanjuti informasi ini. Karena warga sudah berusaha cegat tapi mereka malah ancam warga," ujarnya.
Dikatakan, peristiwa penculikan terjadi setelah aksi penembakan terhadap aparat TNI dan warga sipil di wilayah Distrik Jila, 17 Agustus 2026 lalu.
Perkembangan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan para korban yang disebut masih berada dalam penguasaan kelompok tersebut.
Pinus meminta aparat keamanan dan seluruh pihak meningkatkan pemantauan terhadap pergerakan para pelaku serta mengambil langkah untuk memastikan keselamatan 9 korban.
“Pihak keluarga dari sembilan perempuan yang disandera berharap mereka segera dibebaskan,” ujarnya.
Disisi lain, tindakan kelompok OPM membawa paksa sembilan warga, yang sebagian diantaranya masih berusia anak-anak, membuat Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda geram.
Selain membawa sembilan perempuan secara paksa, satu warga dilaporkan ditembak, sementara satu lainnya disebut dibuang ke jurang.
Jozanda mengatakan, pihaknya telah mengirim aparat gabungan untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok yang membawa para korban.
“Mari kita doakan. Kita sudah kirim prajurit TNI Polri untuk melakukan pengejaran. Situasi di pos kondusif. Satgas dan Koramil sedang komunikasi dengan masyarakat,” kata Jozanda, Kamis (20/8).
Berdasarkan informasi yang diterima, terdapat sembilan warga yang dibawa secara paksa. Para korban seluruhnya merupakan perempuan, termasuk sejumlah anak yang masih duduk di bangku sekolah.
“Memang ada sembilan orang dibawa paksa. Satu orang ditembak, satu orang dibuang ke jurang. Semuanya perempuan,” ungkapnya.
Jozanda meminta masyarakat turut mendoakan prajurit TNI dan Polri yang melakukan pengejaran agar dapat menemukan seluruh korban dan membawa mereka kembali dalam kondisi selamat.
Ia juga memastikan TNI akan mendukung pengiriman bahan makanan ke wilayah Jila menggunakan helikopter, mengingat kondisi keamanan membuat masyarakat kesulitan beraktivitas seperti berkebun.
“Kita dukung dengan helikopter untuk angkut bahan makanan ke sana. Mereka sekarang tidak bisa berkebun, jadi bahan makanan susah,” katanya.
Menurut Jozanda, tindakan membawa warga secara paksa, terlebih anak-anak, merupakan perbuatan yang sangat tidak keji dan manusiawi.
“Kita makhluk sosial, masing-masing bisa analisa. Kejadian ini sangat tidak manusiawi. Bagaimana teganya manusia yang sudah dewasa membawa anak-anak, bahkan menembak orang tuanya,” tegasnya.
Jozanda menegaskan TNI bersama Polri dan Pemerintah Kabupaten Mimika memberikan perhatian penuh terhadap kondisi masyarakat di Jila.
“Ingat, kami sangat peduli dengan kondisi yang dihadapi warga Jila,” pungkasnya.
Sembilan Warga yang Dilaporkan Dibawa Paksa
Berdasarkan data yang diterima, sembilan warga perempuan yang dilaporkan dibawa paksa tersebut yakni:
1. Nemerina Wamang (17), disebut sedang hamil muda, keluarga Kampung Pilikogom. 2. Alin Mesawarol, pelajar kelas 6 SD, Kampung Jila. 3. Nopi Aim, pelajar kelas 4 SD, Kampung Jila. 4. Opinte Mesawaro, pelajar kelas 3 SD, Kampung Jila. 5. Yotina Senawatme (18), Kampung Noema. 6. Meria Nibilingame (15), Kampung Pilikogom. 7. Wena Katagame (18), keluarga Kampung Bunaraigin. 8. Ilimin Onawame (18), keluarga Kampung Noema. 9. Miante Nibilingame (13), Kampung Bunaraigin.
(red)













