Lewati ke konten utama

Saat Air Bersih Mengalir, Wudhu Tak Lagi Jadi Kendala Bagi Jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori Agats

Redaksi Fajar PapuaPenulis
20.33 WIT3 menit baca84 dibaca
Warga mengantri untuk mendapatkan air bersih yang dihasilkan dari mesin pengolahan air bantuan PLN melalui Program TJSL. Kehadiran fasilitas ini sangat membantu memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari bagi jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori serta masyarakat sekitar.
Warga mengantri untuk mendapatkan air bersih yang dihasilkan dari mesin pengolahan air bantuan PLN melalui Program TJSL. Kehadiran fasilitas ini sangat membantu memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari bagi jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori serta masyarakat sekitar.Foto / Lingkungan
Bagikan berita ini
Aa

Agats, fajarpapua.com – Hujan menjadi sumber kehidupan penting bagi masyarakat Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Di daerah yang dikenal sebagai Kota Seribu Papan dan berada di kawasan rawa, air hujan dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga bersuci.

Namun, kondisi berbeda dirasakan saat musim kemarau tiba. Keterbatasan air bersih menjadi persoalan yang turut dirasakan jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori di Jalan Mbait, Kampung Mbait, Distrik Agats.

Masjid yang telah menjadi tempat ibadah masyarakat selama belasan tahun itu sebenarnya sudah memiliki sumur bor. Pengurus juga telah berupaya melakukan penyaringan sederhana agar air dapat dimanfaatkan. Namun, kondisi geografis setempat membuat kualitas air yang dihasilkan masih keruh dan belum layak dikonsumsi secara langsung.

“Sebenarnya Masjid Saiful Al-Bukhori sudah memiliki sumur bor sebagai sumber air. Namun kualitas air dari sumur tersebut masih keruh dan belum layak untuk langsung dikonsumsi sebagai air minum,” ungkap Ketua DKM Masjid Saiful Al-Bukhori, Burhan Ar Rahman, Kamis (20/8/2026).

Kondisi tersebut membuat pengurus masjid harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air minum jemaah dengan membeli air galon.

“Hal ini tentu menambah biaya operasional masjid, terutama saat kegiatan keagamaan atau ketika jumlah jemaah sedang banyak,” tambahnya.

Kini, persoalan tersebut perlahan teratasi. Air tawar yang jernih, tidak berbau dan tidak berasa mulai mengalir di area wudhu Masjid Saiful Al-Bukhori.

Air bersih tersebut tersedia berkat bantuan mesin pengolahan air atau desalinasi dari PT PLN (Persero) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Teknologi tersebut memungkinkan air dari sumur bor yang sebelumnya keruh diolah menjadi air bersih dan jernih untuk memenuhi kebutuhan jemaah serta masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan mesin pengolahan air dari Program TJSL PLN, air dari sumur bor yang sebelumnya belum layak diminum kini dapat diolah menjadi air yang bersih dan jernih,” ujar Burhan.

Menurutnya, bantuan tersebut sangat strategis karena kebutuhan air bersih di lingkungan masjid kini dapat dipenuhi dari fasilitas yang tersedia. Manfaatnya juga dirasakan di luar lingkungan masjid, termasuk oleh sekitar 200 jemaah dan warga yang tinggal di sekitar masjid.

“Kami merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN atas kepeduliannya kepada Masjid Saiful Al-Bukhori dan masyarakat sekitar. Selain mengurangi biaya pembelian air minum, bantuan ini sangat mendukung kenyamanan jemaah dalam beribadah serta membantu pemenuhan kebutuhan harian warga,” tuturnya.

Kini, setiap azan berkumandang di Masjid Saiful Al-Bukhori, jemaah tidak lagi dihantui kekhawatiran akan keterbatasan air untuk berwudhu. Air bersih yang mengalir dari hasil pengolahan tersebut menjadi berkah baru bagi jemaah sekaligus masyarakat di tengah kehidupan warga Agats yang berada di kawasan rawa.

(Humas PLN)