Flores, fajarpapua.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, mengakibatkan sejumlah bangunan dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Provinsi NTT, gempa terjadi sekitar pukul 04.58 WITA dan dirasakan kuat di sejumlah wilayah Pulau Flores, termasuk Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
Di Kabupaten Manggarai, BPBD melaporkan sedikitnya 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang dan sembilan rumah rusak ringan. Sebanyak 15 jiwa juga tercatat mengungsi, yang merupakan pasien rawat inap.
Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah. Kerusakan antara lain melanda Kantor Kelurahan Nanga Baras, Gereja Paroki Borong, KCP BRI Borong serta sejumlah rumah warga.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Desa Waekorok/Kelurahan Tanah Rata berupa kerusakan rumah, gereja, aula gereja dan Rusun Seminari. Di Desa Lenang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, tercatat 23 rumah hancur total.
Selain kerusakan bangunan, akses jalan juga terdampak. Jalur Tengku Teang di Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, dilaporkan terputus akibat material longsor.
Di Kabupaten Ende, dampak gempa juga cukup luas. BPBD mencatat sejumlah ruas jalan terdampak, termasuk ruas Ende-Maumere, Ende-Aegela dan Waelengga-Mborong. Satu ruas jalan Trans Ende-Nagekeo serta ruas jalan Ende-Arubara tertutup material runtuhan tebing.
Selain itu, dua fasilitas publik mengalami kerusakan ringan dengan bagian atap dan plafon rubuh. Sebanyak 15 rumah di Ende juga dilaporkan mengalami kerusakan ringan berupa plafon rubuh. Fasilitas PAUD serta dua tempat ibadah turut mengalami kerusakan ringan.
Kerusakan juga terjadi di sejumlah fasilitas penting, di antaranya Kantor Pelabuhan Laurens Say Maumere, Kampus Unika Ruteng dan Kantor BRI Mborong. Kondisi bangunan dan jumlah rumah yang terdampak masih dalam proses pendataan.
Gempa tersebut juga memicu kepanikan warga. Masyarakat di sejumlah kawasan pesisir melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih tinggi setelah BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami.
BPBD NTT mencatat gelombang tsunami terdeteksi di stasiun pengamatan Sikka dengan ketinggian sekitar 0,19 meter. Di Pelabuhan Kewapante, kenaikan muka air atau gelombang tsunami tercatat sekitar 0,38 meter.
Dampak terhadap korban jiwa juga dilaporkan terjadi di sejumlah kabupaten. Di Kabupaten Sikka tercatat tiga orang meninggal dunia, sementara sejumlah warga mengalami luka-luka. Di Kabupaten Manggarai, enam orang dilaporkan meninggal dunia, sedangkan di Kabupaten Manggarai Timur terdapat lima korban meninggal dunia.
Hingga laporan BPBD diperbarui Sabtu (15/8/2026), kondisi di sejumlah wilayah terdampak masih dalam tahap penanganan awal dan pendataan.
Petugas bersama pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, tenaga kesehatan dan relawan melakukan pendataan korban serta kerusakan, asesmen keamanan bangunan dan fasilitas umum, serta pemantauan kemungkinan terjadinya gempa susulan.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperoleh informasi dari sumber resmi. Di Kabupaten Ende, jaringan telekomunikasi dilaporkan mengalami gangguan akibat pemadaman listrik.(red)









