Lewati ke konten utama

Uni Eropa Siap Kerahkan Satelit Copernicus Bantu Pencarian Korban Gempa NTT, Sudah 47 Warga Dilaporkan Meninggal Dunia

Redaksi Fajar PapuaPenulis
12.50 WIT3 menit baca252 dibaca
Satelit Copernicus milik Uni Eropa
Satelit Copernicus milik Uni EropaFoto / Lingkungan
Bagikan berita ini
Aa

Jakarta, fajarpapua.com – Uni Eropa (EU) menyatakan siap membantu Indonesia dalam operasi pencarian dan penyelamatan korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, bantuan tersebut dapat dilakukan melalui pengerahan sistem satelit Copernicus milik Uni Eropa.

“Dari solidaritas menjadi tindakan, Eropa senantiasa siap mengerahkan Copernicus, mata kami di langit, untuk mendukung upaya pencarian dan penyelamatan. Indonesia, kami berdiri bersamamu,” kata Von der Leyen melalui media sosial X, Sabtu.

Copernicus merupakan sistem observasi Bumi milik Uni Eropa. Dalam situasi kedaruratan, data satelit tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan cepat wilayah terdampak serta mendukung operasi pencarian dan penyelamatan.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data sementara hingga Sabtu pukul 18.48 WIB. Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa M7,7 di Provinsi NTT mencapai 47 orang.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, 47 korban meninggal tersebut tersebar di sejumlah kabupaten.

“Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka tiga orang, Ngada satu orang, dan Ende satu orang,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.

Selain korban meninggal dunia, petugas juga terus melakukan evakuasi serta memberikan perawatan medis terhadap warga yang mengalami luka-luka akibat gempa.

Ratusan Bangunan Rusak

BNPB mencatat gempa juga menyebabkan kerusakan pada ratusan bangunan. Sebanyak 157 rumah mengalami rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah mengalami rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum, meliputi 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, enam kantor, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.

Untuk mendukung penanganan bencana, BNPB mengirimkan bantuan pangan dan nonpangan ke sejumlah wilayah terdampak.

Bantuan tersebut antara lain dikerahkan melalui gudang logistik BNPB yang berada di Kabupaten Flores Timur, NTT.

“Sedangkan dari Jakarta, BNPB juga mengirimkan bantuan melalui Baseops TNI AU Halim Perdanakusuma. Total bantuan sebanyak 50 ribu paket dengan berat 275 ton. Saat ini, bantuan yang baru tiba di Baseops sebanyak 10.500 paket, yang berasal dari Sekretaris Kabinet,” ujar Berton.

Guncangan Dirasakan hingga NTB dan Sulsel

Guncangan gempa juga dirasakan masyarakat di Kabupaten dan Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Berton mengatakan, situasi masyarakat di Kabupaten dan Kota Bima secara umum masih kondusif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima juga melakukan pendataan dan verifikasi kondisi di lapangan.

Sementara di Kabupaten Kepulauan Selayar, Pusat Pengendalian Operasi BNPB menerima laporan bahwa BPBD setempat telah mendirikan pos pengungsian di tiga lokasi.

“Sebaran pengungsian berada di Kecamatan Pasimarannu, Pasilambena dan Takabonerate,” ucap Berton.

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait masih melakukan pendataan, evakuasi, serta penanganan terhadap warga terdampak gempa.(ant/red)