Jakarta, fajarpapua.com – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) mencapai 54 orang. Di tengah penanganan dampak bencana tersebut, Pemerintah menyiapkan dana bencana yang bersifat siap pakai (on call) sebesar Rp5 triliun untuk merespons kebutuhan penanggulangan bencana di seluruh Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah masih membuka ruang penambahan anggaran sesuai kebutuhan riil di lapangan berdasarkan permintaan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Dana bencana itu selalu siaga di angka Rp5 triliun. Tapi kalau kurang, kita tambah lagi, tergantung kebutuhan yang diajukan BNPB,” kata Purbaya di Jakarta, Senin.
Menkeu memastikan setiap permintaan pendanaan untuk penanganan bencana akan ditindaklanjuti secara cepat melalui mekanisme dan standar operasional prosedur (SOP) yang telah disiapkan Pemerintah.
“Begitu ada permintaan resmi masuk, kami langsung tindak lanjuti dengan cepat. Khusus untuk kebutuhan bencana, SOP kita memang dirancang responsif, selama permintaannya jelas,” katanya menjelaskan.
Selain dana yang dikelola Kementerian Keuangan, BNPB juga memiliki cadangan dana siap pakai sekitar Rp500 miliar untuk mendukung penanganan kebutuhan darurat di lapangan.
“Di BNPB juga sudah tersedia dana yang siap digunakan, sekitar Rp500 miliar dalam posisi siaga. Kalau kurang, kami tambahkan kembali,” katanya menambahkan.
Kesiapan anggaran tersebut mencerminkan komitmen Pemerintah untuk memastikan aspek pembiayaan tidak menjadi hambatan dalam penanganan bencana.
Dukungan anggaran akan terus disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan serta permintaan resmi dari BNPB agar respons kebencanaan dapat berjalan cepat, terukur dan tepat sasaran.
Sementara itu, gempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA. Berdasarkan data BNPB pada Minggu (16/8) malam, sebanyak 54 warga meninggal dunia, 199 orang luka-luka, 9.963 orang mengungsi dan 1.528 kepala keluarga (KK) terdampak.
BNPB juga mencatat sebanyak 2.403 rumah mengalami kerusakan akibat gempa di sisi utara Pulau Flores. Dari jumlah tersebut, 1.543 rumah mengalami rusak berat, 328 rusak sedang dan 532 rusak ringan.
Sebanyak 22 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan dan 88 lainnya terdampak guncangan gempa. Sementara fasilitas kesehatan yang terdampak mencapai 211 unit, terdiri atas 21 rumah sakit dan 190 puskesmas.
Selain itu, BNPB mencatat satu gudang Perum Bulog, 42 fasilitas umum, 65 rumah ibadah, 105 unit kantor, 18 fasilitas irigasi serta 34 titik jalan turut terdampak gempa M7,7 tersebut.(ant/red)














