Lewati ke konten utama

6 Hari Terombang-Ambing di Laut, 5 Korban Speedboat Hilang di Perairan Waropen Ditemukan Selamat

Redaksi Fajar PapuaPenulis
15.54 WIT3 menit baca174 dibaca
Lima korban speedboat rute Serui–Waropen yang sempat hilang selama enam hari ditemukan selamat setelah dievakuasi oleh KM Masirei di perairan Nabire, Sabtu (29/8/2026).
Lima korban speedboat rute Serui–Waropen yang sempat hilang selama enam hari ditemukan selamat setelah dievakuasi oleh KM Masirei di perairan Nabire, Sabtu (29/8/2026).Foto / Papua Tengah
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Lima korban speedboat rute Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, menuju Waropen yang sempat dilaporkan hilang selama enam hari akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat, Sabtu (29/8/2026).

Kelima korban ditemukan oleh kapal penumpang KM Masirei yang sedang berlayar dari Biak menuju Nabire. Penemuan ini menjadi titik terang setelah Tim SAR gabungan melakukan pencarian secara intensif sejak korban dilaporkan hilang pada Minggu (23/8/2026).

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, membenarkan kelima korban ditemukan sekitar pukul 06.55 WIT di perairan Nabire, Provinsi Papua Tengah.

“Perahu speedboat beserta seluruh korban ditemukan kurang lebih 17 mil laut dari Pulau Moor, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, tepatnya di koordinat 02° 43' 40.4" S dan 135° 28' 22.3" E. Saat ini seluruh korban dan perahu telah dievakuasi ke Nabire,” ujar Cahyo.

Kelima korban terdiri dari dua warga sipil dan tiga personel Polri. Mereka masing-masing Amsal Yowei selaku motoris, Malfib Yowei selaku penumpang, serta Bripda Lamek Abon, anggota Samapta, Bripda Farel Raunsai, anggota Satlantas, dan Bripda Melfin Maniani, anggota Dokkes.

Cahyo menjelaskan, peristiwa bermula saat speedboat yang membawa kelima korban bertolak dari Serui menuju Waropen pada Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 05.00 WIT.

Dalam perjalanan, speedboat tersebut menghadapi kondisi cuaca buruk di tengah perairan.

“Keterangan sementara menyebutkan perahu mengalami kendala akibat cuaca buruk. Saat berangkat, kondisi perairan diselimuti kabut tebal dan dihantam gelombang tinggi,” jelasnya.

Sejak menerima laporan kehilangan, Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian dengan mengerahkan sejumlah unsur, di antaranya Basarnas Biak, Yapen dan Nabire, TNI AL Biak, Koramil Waropen, Kodim 1709/Yawa, serta personel Satpolairud Polres Waropen, Polres Kepulauan Yapen dan Polres Nabire.

Pencarian dilakukan dengan menyisir wilayah perairan Waropen, Kepulauan Yapen hingga kawasan Teluk Cenderawasih. Pemantauan dari udara juga dilakukan dengan melibatkan armada Skuadron Udara Lanud Biak di wilayah perairan Saireri.

Selain itu, Stasiun Radio Pantai (SROP) terus menyebarluaskan informasi marabahaya atau distress alert kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar titik terakhir keberadaan korban atau Last Known Position (LKP).

Upaya pencarian akhirnya membuahkan hasil pada Sabtu pagi. Awak KM Masirei yang dipimpin Kapten Taufik Efendi melihat sebuah speedboat dalam kondisi terombang-ambing di tengah laut.

Setelah memastikan terdapat korban di dalam speedboat tersebut, proses evakuasi langsung dilakukan.

“Sekitar pukul 07.00 WIT, seluruh korban berhasil dievakuasi ke atas KM Masirei. Tim medis yang berada di kapal kemudian memberikan penanganan awal dan memastikan seluruh korban dalam kondisi selamat dan sehat,” ungkap Cahyo.

Setibanya di Kabupaten Nabire, kelima korban kembali mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis dari Tim Kesehatan SAR Nabire bersama Bidokkes Polda Papua Tengah.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan para korban setelah bertahan selama beberapa hari di tengah laut.

Pihak kepolisian bersama Tim SAR masih melakukan pendalaman terkait kronologi perjalanan kelima korban selama enam hari sebelum ditemukan.

Pendalaman dilakukan untuk mengetahui secara pasti kondisi speedboat selama berada di laut, termasuk kemungkinan perahu sempat berlindung atau terdampar di wilayah tertentu sebelum kembali ditemukan di perairan Nabire.

Sementara itu, Kapolres Waropen telah bertolak menuju Kabupaten Nabire untuk memastikan proses penanganan dan penyerahan kelima korban berjalan dengan baik.

Cahyo mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui jalur laut agar selalu mengutamakan keselamatan, memperhatikan kondisi cuaca, serta memastikan kelayakan perahu dan perlengkapan keselamatan sebelum berangkat.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan. Pastikan perahu dalam kondisi layak dan lengkapi dengan alat keselamatan serta sarana komunikasi. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” pungkas Cahyo. (hsb)