Lewati ke konten utama

Kapolres Mimika Temui Dua Kubu Bertikai, Serukan Perdamaian dan Minta Semua Alat Perang Dimusnahkan

Redaksi Fajar PapuaPenulis
19.59 WIT3 menit baca282 dibaca
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak saat turun langsung menemui kedua kubu yang bertikai di Kwamki Narama, Sabtu (5/9).
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak saat turun langsung menemui kedua kubu yang bertikai di Kwamki Narama, Sabtu (5/9).Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Konflik keluarga antara kelompok Dang dan Newegalen di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika diharapkan segera berakhir. Untuk mencapai harapan tersebut, Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak turun langsung menemui kedua kubu, Sabtu (5/9), demi mendorong penghentian konflik dan mewujudkan perdamaian.

Saat tatap muka, Kapolres minta kedua kelompok tidak lagi saling balas dendam serta menyerahkan seluruh alat perang kepada aparat untuk dimusnahkan.

Kapolres bersama Wakapolres Mimika Kompol Jaihot Limbong, Kabag Ops AKP Hari Katang, Kasubag Bin Ops AKP Anwar M., Kasat Samapta Iptu Franciskus Tethool serta personel pengamanan mendatangi langsung titik berkumpul kedua kelompok.

Rombongan pertama menemui kelompok Noap Dang dan berdialog dengan para tokoh serta Waimum. Dalam pertemuan tersebut, Waimum kelompok Dang, Timo Wamang, menyatakan pihaknya siap menghentikan konflik dan mengikuti keputusan keluarga korban.

"Kita siap ikuti dari pihak korban dan sekarang mereka sudah siap berdamai, kita siap laksanakan semua," ujar Timo.

Setelah bertemu kelompok Dang, Kapolres bersama rombongan berjalan kaki menuju kelompok Newegalen. Waimum Newegalen, Weni Kiwak, juga menyampaikan komitmen serupa.

Ia memastikan tidak akan terjadi perang apabila kedua pihak sama-sama berkomitmen menjaga keamanan dan perdamaian.

"Jadi Noap bilang aman, di sini berarti tidak ada perang lagi," katanya.

*Kapolres Minta Alat Perang Diserahkan*

Alredo menegaskan, perdamaian tidak boleh hanya menjadi seremoni adat. Menurutnya, selama alat perang masih berada di tangan kelompok yang bertikai, potensi konflik kembali terjadi tetap terbuka.

Karena itu, ia meminta seluruh busur, anak panah dan parang yang masih dimiliki kedua kelompok diserahkan kepada aparat untuk dimusnahkan.

Kapolres bahkan menegaskan tidak cukup hanya melakukan tradisi patah panah sebagai tanda berakhirnya konflik.

"Tidak ada lagi patah panah, nanti ada masalah kamu perang lagi. Jadi semua, baik Dang maupun Newegalen, datang dan serahkan busur dan anak panah, parang, baru kita musnahkan semua," tegas Alredo.

Menurutnya, perdamaian harus dibangun dengan komitmen nyata dan tidak berhenti pada kesepakatan sesaat.

*Tegaskan Tak Ada Pembayaran Kepala*

Dalam kesempatan itu, Kapolres juga memperingatkan masyarakat agar tidak berharap adanya pembayaran kepala dari pemerintah dalam proses perdamaian.

Ia menegaskan, perdamaian harus menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, bukan menjadi celah bagi munculnya konflik baru demi mendapatkan keuntungan.

"Jadi tidak ada pemerintah turun untuk bayar kepala, nanti kamu bikin perang lagi supaya dapat uang lagi. Kalau kalian damai nanti pemerintah datang masuk untuk buat program dan kehidupan kalian bisa berubah," tuturnya.

*Polisi Siap Razia Jika Alat Perang Masih Disimpan*

Wakapolres Mimika Kompol Jaihot Limbong mempertegas sikap aparat. Seluruh alat perang yang masih disimpan masyarakat diminta segera diserahkan.

Jika masih ditemukan alat perang yang disembunyikan, kepolisian akan melakukan tindakan tegas melalui razia untuk mengamankan barang-barang yang berpotensi digunakan dalam konflik.

"Jadi serahkan semua atau kami akan melakukan razia sampai ke rumah-rumah untuk mengamankan panah-panah dan parang," tegas Jaihot.

Kedua kelompok selanjutnya diberikan kesempatan untuk melakukan musyawarah internal guna menentukan proses perdamaian.

Namun, penyerahan seluruh alat perang menjadi salah satu langkah utama yang telah ditegaskan aparat untuk memastikan konflik benar-benar berakhir.

Polres Mimika bersama TNI dan Pemerintah Kabupaten Mimika akan terus melakukan pengamanan serta pendekatan kepada kedua pihak.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah konflik kembali pecah sekaligus memastikan Kwamki Narama dapat memasuki fase perdamaian yang berkelanjutan. (ron)