Jayapura, fajarpapua.com – Sebanyak lima anggota keluarga eks Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari wilayah perbatasan Papua-Papua Nugini menyatakan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka juga secara sukarela menyerahkan tiga pucuk senjata api kepada aparat.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang mengatakan, kembalinya lima warga tersebut merupakan bagian dari proses pembinaan teritorial yang dilakukan secara berkelanjutan oleh jajaran Kodam XVII/Cenderawasih, mulai dari tingkat Korem, Kodim hingga satuan kewilayahan.
Menurut Pangdam, proses pembinaan tidak hanya mengedepankan aspek keamanan, tetapi juga dilakukan melalui pendekatan harmonis berupa pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu proses pembinaan bahkan telah berlangsung sejak 2019, ketika tokoh OPM berinisial LK memilih kembali ke NKRI dan kemudian mendapatkan dukungan sarana usaha peternakan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarganya.
“Kami memberikan dukungan sarana usaha peternakan agar ekonomi keluarga beliau lebih mandiri,” ujar Pangdam di Makodam XVII/Cenderawasih.
Dikatakan Pangdam, perubahan kondisi ekonomi keluarga tersebut kemudian menjadi pengalaman nyata yang mendorong anggota keluarga lainnya mengambil keputusan serupa setelah melihat langsung manfaat kehadiran negara melalui pendampingan dan pemberdayaan.
Lima anggota keluarga yang sebelumnya masih berada di seberang perbatasan bersama kelompok OPM akhirnya memilih kembali dan menjalani kehidupan secara damai bersama masyarakat.
Langkah tersebut mencapai puncaknya pada Jumat (25/9/2026), ketika lima warga tersebut diterima langsung oleh Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi.
Pada kesempatan itu, mereka secara sukarela menyerahkan tiga pucuk senjata api, masing-masing satu pucuk FN, satu pucuk revolver dan satu pucuk senjata rakitan, berikut amunisi serta magasin.
Pangdam menegaskan, upaya menjaga kedamaian dan membangun masa depan Papua membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif sekaligus memperluas kesempatan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan.
“Harapan saya, mereka yang baru kembali dapat menjadi jembatan damai untuk mengajak saudara-saudara kita yang masih berada di dalam hutan untuk kembali berbaur, berkebun, dan membangun masa depan bersama tanpa rasa cemas,” pungkas Pangdam.
Pangdam mengatakan, proses tersebut menunjukkan pentingnya pembinaan teritorial yang dilakukan dengan pendekatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kehadiran aparat di tengah masyarakat diarahkan tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga membantu membuka ruang bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik. (hsb).









