Timika, fajarpapua.com– Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, harga cabai rawit di Pasar Sentral Timika, Papua Tengah, justru semakin “pedas”.
Di tingkat pedagang, harga cabai rawit merah kini menembus angka antara Rp 110.000 hingga Rp 120.000 per kilogram.
Kenaikan ini bukan disebabkan kelangkaan produksi. Justru sebaliknya, stok cabai rawit lokal di Mimika terpantau melimpah seiring tingginya hasil panen petani.
Fenomena ini terungkap saat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mimika, Sabelina Fitriani, bersama jajaran melakukan pemantauan langsung di Pasar Sentral Timika.
“Hasil pemantauan kami, stok cabai rawit sebenarnya cukup banyak. Namun karena permintaan dari luar daerah dengan harga yang lebih tinggi, banyak cabai dikirim keluar,” ujar Sabelina, Kamis (19/3).
Menurutnya, daya tarik harga di luar daerah membuat petani dan pedagang lebih memilih menjual ke pasar eksternal.
Dampaknya, pasokan di dalam Mimika berkurang dan memicu kenaikan harga di tingkat lokal.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama karena berpotensi memicu inflasi menjelang hari besar keagamaan, saat kebutuhan masyarakat meningkat.
Sabelina menegaskan, pihaknya akan melakukan evaluasi untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan komoditas di dalam daerah.
Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pembatasan distribusi cabai rawit ke luar Mimika.
“Kami akan kaji langkah-langkah pengendalian, termasuk kemungkinan pembatasan pengiriman keluar daerah, agar stok dan harga di Mimika tetap stabil, tidak hanya cabai tetapi juga komoditas lain,” tegasnya. (mas)

