Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

PEIF 2026 di Timika Buka Peluang Investasi Baru, Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Papua

Suasana Papua Economic and Investment Forum (PEIF) 2026, yang digelar di Hotel Swiss-Belinn Timika, Kamis (4/6).
Suasana Papua Economic and Investment Forum (PEIF) 2026, yang digelar di Hotel Swiss-Belinn Timika, Kamis (4/6).Foto / Mimika
Redaksi Fajar Papua3 menit baca10 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com – Forum ekonomi terbesar di kawasan timur Indonesia, Papua Economic and Investment Forum (PEIF) 2026, resmi digelar di Hotel Swiss-Belinn Timika, Kamis (4/6).

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membuka peluang investasi baru sekaligus mendorong hilirisasi berkelanjutan demi mempercepat pertumbuhan ekonomi di Tanah Papua.

Mengusung tema “Mengakselerasi Pertumbuhan Papua Melalui Sinergi Investasi dan Hilirisasi Berkelanjutan”, forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, investor, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, hingga mitra pembangunan dari berbagai wilayah di Papua.

PEIF 2026 diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika bersama sejumlah pemangku kepentingan strategis sebagai upaya menciptakan iklim investasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan di Papua Tengah serta wilayah Papua lainnya.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, mengatakan forum tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Melalui forum ini kita dapat memetakan berbagai peluang strategis, memperkuat kepercayaan investor, serta membangun sinergi untuk mendukung kemajuan Papua Tengah dan Tanah Papua secara umum,” ujarnya.

Menurut Wabup Kemong, investasi yang masuk ke Papua diharapkan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Mimika membuka ruang kerja sama bagi investor yang memiliki komitmen membangun daerah melalui investasi yang berpihak pada masyarakat lokal.

“Investasi yang hadir harus mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung program pembangunan sosial seperti pengentasan kemiskinan dan penanganan stunting,” katanya.

Dalam forum tersebut, perhatian besar juga diberikan terhadap keterlibatan Orang Asli Papua (OAP) dalam aktivitas ekonomi daerah.

Pemerintah berharap OAP dapat memperoleh ruang yang lebih luas untuk terlibat langsung dalam berbagai sektor usaha dan merasakan manfaat nyata dari investasi yang berkembang.

Selain membahas peluang investasi, PEIF 2026 turut memaparkan perkembangan ekonomi regional Papua yang menunjukkan tren positif.

Konsumsi pemerintah tercatat menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan capaian sekitar 3,5 persen dibanding kuartal sebelumnya yang berada di angka 0,56 persen.

Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh sebesar 4,65 persen seiring meningkatnya aktivitas pembangunan di berbagai daerah Papua.

Aktivitas ekspor juga mengalami peningkatan sebesar 5,7 persen melalui perdagangan sejumlah komoditas unggulan.

Di Papua Tengah, sektor administrasi pemerintahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian daerah dengan porsi mencapai 50,5 persen.

Pertumbuhan sektor pertanian tercatat sebesar 6,46 persen, sedangkan konsumsi rumah tangga naik menjadi 2,13 persen dan investasi tumbuh 2,9 persen.

Papua Selatan juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5 persen dengan peningkatan investasi hingga 7,9 persen.

Sektor jasa tumbuh 6,14 persen meski sektor pertanian mengalami perlambatan.

Adapun di Papua Pegunungan, sektor pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi daerah.

Meski sektor tersebut mengalami kontraksi, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah tetap tumbuh sehingga aktivitas ekonomi masyarakat masih terjaga.

Forum PEIF 2026 juga mencatat kondisi inflasi Papua yang relatif terkendali di kisaran 2,5 persen secara tahunan, memberikan optimisme terhadap stabilitas ekonomi kawasan.

Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan berbagai kerja sama konkret yang dapat memperkuat investasi, mempercepat hilirisasi sumber daya alam, dan mendorong pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh Tanah Papua. (moa)