Timika, fajarpapua.com – Semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelesaian konflik di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, sepakat menyerukan satu pesan yang sama: jangan ada perang lagi di Kwamki Narama.
Seruan itu mengemuka dalam prosesi perdamaian adat antara keluarga Dang dan Newegalen yang berlangsung di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Rabu (24/6).
Setelah delapan bulan dilanda konflik berdarah yang merenggut korban jiwa, kedua belah pihak akhirnya menyatakan damai dan berkomitmen menghentikan seluruh bentuk permusuhan.
Perdamaian ditandai dengan ritual adat patah panah dan panah babi yang menjadi simbol berakhirnya pertikaian serta dimulainya lembaran baru bagi masyarakat Kwamki Narama.
Data yang dihimpun menyebutkan, konflik antara kedua kelompok keluarga tersebut telah menyebabkan sedikitnya 17 orang meninggal dunia dari kedua belah pihak.
Selain korban jiwa, puluhan warga lainnya mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Upacara adat perdamaian dihadiri oleh Bupati Mimika Johannes Rettob, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah Agustinus Anggaibak, Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah Yohanes Kemong, DPRK Mimika, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman, Dandim 1710/Mimika, unsur Forkopimda, serta tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik yang terjadi merupakan perang saudara dalam lingkup keluarga, bukan perang antarsuku.
Karena itu, ia berharap perdamaian yang telah disepakati menjadi akhir dari seluruh pertikaian di Kwamki Narama.
"Hari ini kita berkumpul untuk menyatakan perdamaian bersama atas perang saudara ini. Saya sudah bertemu dengan kedua belah pihak dan mereka sepakat berdamai. Jangan ada erang lagi," kata Johannes Rettob.
Bupati Rettob berharap Kwamki Narama dapat bangkit menjadi wilayah yang aman sehingga pembangunan dapat berjalan dengan baik.
"Saya berharap apa yang kita lakukan hari ini tidak lagi dilakukan. Kwamki Narama kita buat menjadi baik, aman, dan damai. Semoga perdamaian ini menjadi momen baru bagi Kwamki Narama," tuturnya.
Ketua MRP Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, mengaku bersyukur karena konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan akhirnya dapat diakhiri melalui kesepakatan bersama.
"Hari ini kita betul-betul mengangkat hati kepada Tuhan. Apa yang sudah diupayakan pemerintah daerah, aparat keamanan, Kapolres bersama jajarannya, kepala distrik, Danramil, dan Kapolsek merupakan kerja keras yang luar biasa," katanya.
Menurut Agustinus, proses menuju perdamaian tidak berlangsung singkat. Berbagai pendekatan terus dilakukan kepada masyarakat agar konflik dapat dihentikan demi masa depan generasi Papua.
Ia mengingatkan Kwamki Lama harus menjadi zona damai, bukan tempat pertumpahan darah.
"Pemerintah sedang membangun daerah ini. Jangan ada perang lagi. Mari kita sama-sama mendukung pembangunan dan membangun Kwamki Lama," ujarnya.
Agustinus menegaskan masyarakat Papua tidak boleh terus kehilangan nyawa akibat konflik yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui musyawarah.
"Kwamki Lama bukan tempat untuk kita saling membunuh. Pertumpahan darah harus dihentikan. Orang Papua jangan ada yang mati lagi. Cukup sampai hari ini," tegasnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah, Yohanes Kemong, mengatakan sejak awal pihaknya ikut mendorong penyelesaian konflik melalui pendekatan bersama tokoh adat dan masyarakat.
"Hari ini sudah ada pernyataan yang jelas bahwa perang selesai. Tidak boleh ada perang lagi," kata Yohanes.
Ia menegaskan, apabila di kemudian hari konflik kembali terjadi, maka penyelesaiannya harus melalui pemerintah dan aparat penegak hukum.
"Kami dari lembaga Provinsi Papua Tengah, DPR, dan tokoh adat sudah menyatakan sikap. Kalau terjadi lagi, kami serahkan kepada pemerintah dan penegak hukum," ujarnya.
Sebagai anak Kwamki Narama, Yohanes mengajak seluruh masyarakat menjaga kedamaian demi masa depan daerah.










