Jayapura, fajarpapua.com – Bank Indonesia (BI) terus memastikan ketersediaan uang rupiah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Papua guna mendukung aktivitas perekonomian masyarakat sekaligus mencegah penggunaan mata uang asing di kawasan perbatasan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan, BI secara rutin melaksanakan kegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK) untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai, serta dalam kondisi layak edar.
"Petugas Bank Indonesia mengedarkan uang rupiah ke Waropen menggunakan pesawat jenis Caravan melalui Bandara Botawa. Wilayah ini hanya dapat dijangkau pesawat berbadan kecil karena keterbatasan landasan serta tantangan geografis," ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Warsono menjelaskan, kegiatan KKLK di Kabupaten Waropen telah menjadi agenda tahunan. Layanan penukaran dipusatkan di Pasar Uri dan Bank Papua. Selain menukar Uang Tidak Layak Edar (UTLE) menjadi Uang Layak Edar (ULE), masyarakat juga mendapatkan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.
Untuk Distrik Atsj, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, petugas BI harus menempuh dua kali penerbangan dari Jayapura menuju Timika, kemudian ke Asmat, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kapal dari Agats melintasi arus sungai menuju Distrik Atsj.
"Petugas kami harus menempuh dua kali penerbangan dan melanjutkan perjalanan menggunakan kapal untuk mengedarkan uang rupiah kepada masyarakat di Distrik Atsj," katanya.
Selama kegiatan tersebut, BI juga memberikan edukasi mengenai cara merawat uang rupiah. Hal itu penting mengingat wilayah Asmat didominasi kawasan rawa dengan tingkat kelembapan tinggi yang membuat uang lebih cepat rusak.
Sementara di Wamena, Papua Pegunungan, BI menggelar KKLK pada 10–11 Februari 2026 untuk memenuhi kebutuhan uang pecahan kecil bagi masyarakat dan pedagang di pasar tradisional.
"Harga barang di Wamena relatif tinggi dan pecahan kecil sulit ditemukan di pasar tradisional. Kehadiran Pejuang Rupiah diharapkan dapat memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat sekaligus memberikan edukasi agar memanfaatkan layanan penukaran uang yang tersedia di bank setiap minggu," bebernya.
Warsono berharap kegiatan kas keliling di wilayah 3T dapat meningkatkan daya beli masyarakat serta memperlancar transaksi ekonomi melalui ketersediaan uang pecahan kecil.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan agar rupiah hadir di seluruh pelosok Papua, termasuk wilayah 3T," pungkasnya.
Ia juga mengajak masyarakat merawat rupiah dengan prinsip 5J, yakni jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, dan jangan dibasahi. Masyarakat juga diimbau berbelanja sesuai kebutuhan agar stabilitas harga tetap terjaga. (hsb)









