Timika, fajarpapua.com – Peristiwa pembunuhan terhadap pasangan suami istri di wilayah Yahukimo yang dilakukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo memicu kecaman keras warga.
Sejumlah akun Facebook mempertanyakan alasan pembunuhan tersebut dan mendesak pimpinan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Kopi Tua Heluka, memberikan klarifikasi secara terbuka.
Salah satu komentar yang ramai menjadi perhatian datang dari akun Guntur D. Dalam unggahannya, ia melontarkan kritik keras kepada Kopi Tua Heluka dengan menudingnya sebagai "banpol setingan negara" yang menyusup ke tubuh TPNPB.
Ia juga mempertanyakan alasan korban yang disebut sebagai pejuang Papua justru dituduh sebagai mata-mata tanpa bukti yang jelas.
"Kopi Tua Heluka, ko itu yang banpol setingan negara yang jadi kelompok propaganda dan provokator untuk sesama tong orang Papua. Ko bunuh KK Kumis Kogoya bersama istri lalu tuduh dong dua banpol. Ko pernah jadi tapol seperti KK Kumis dia kah?" tulisnya.
Dalam unggahan tersebut, Guntur D menyayangkan terjadinya saling curiga dan saling bunuh di antara sesama orang asli Papua. Ia berpendapat apabila perjuangan dilakukan demi mempertahankan wilayah tertentu, seharusnya sasaran bukan warga sipil.
Ia juga menyampaikan harapan agar generasi Papua memperoleh pendidikan yang layak sehingga mampu bersaing melalui ilmu pengetahuan dan pembangunan, bukan hidup dalam konflik berkepanjangan.
Terpisah, akun Facebook Buchtar Tabuni juga meminta Kopi Tua Heluka beserta pasukannya segera memberikan penjelasan mengenai peristiwa tersebut.
Menurut Buchtar, satu kesalahan kecil dapat merusak perjuangan yang telah dibangun selama ini. Ia menegaskan, apabila korban benar dituduh sebagai mata-mata militer Indonesia, maka tuduhan tersebut harus disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Tanpa adanya klarifikasi dan bukti yang memadai, berbagai spekulasi dapat terus berkembang dan berpotensi memengaruhi kepercayaan publik. Oleh karena itu, penyampaian informasi yang akurat, transparan, dan dapat diverifikasi menjadi hal yang penting agar setiap pihak dapat menilai peristiwa tersebut berdasarkan fakta yang tersedia," tulis Buchtar Tabuni.
Di tempat lain, akun Facebook Jefri Lokbere mengunggah narasi yang menyebut korban bernama Yentinus Wetipo/Kelnea. Dalam unggahannya, ia mengklaim korban merupakan pejuang Papua Merdeka dan bukan mata-mata aparat keamanan. Ia meminta TPNPB Yahukimo melakukan pemeriksaan internal terhadap insiden penembakan tersebut.
Sementara itu, akun Facebook Ardy BoLang Kamban menyampaikan klaim berbeda. Dalam unggahannya disebutkan korban bernama Yantinus Kogeya alias Kumis Tua, yang diklaim merupakan mantan narapidana sekaligus bekas anggota KKB Yahukimo. Unggahan tersebut juga menyebut istri korban sebagai simpatisan perjuangan Papua serta menilai tuduhan sebagai mata-mata kerap disampaikan tanpa bukti yang jelas.
# Aksi keji TPNPB Menuai Kecaman
Keluarga Selly Wenda menyampaikan bantahan atas tuduhan TPNPB-OPM yang menyebut korban terlibat dalam operasi militer Indonesia hingga menjadi alasan eksekusi terhadap dirinya bersama Yantinus Kogoya.
Bantahan itu disampaikan melalui unggahan akun Facebook bernama Kaka Kogoyanack yang beredar di media sosial, Sabtu (25/7/2026).
Dalam unggahan tersebut, pihak keluarga menyatakan sangat kecewa dengan tindakan yang dilakukan TPNPB-OPM.
Menurut Kaka, Selly Wenda merupakan perempuan asal Kabupaten Jayawijaya yang baru berada di Yahukimo karena mengikuti suaminya. Keluarga menegaskan Selly tidak memiliki keterlibatan sebagaimana tuduhan yang disampaikan TPNPB-OPM.
"Kami keluarga kecewa dengan tindakan ini. Kalian salah bunuh orang. Selly hanya terjebak berada di sana," tulis akun tersebut.
Keluarga juga menilai eksekusi tidak seharusnya dilakukan hanya berdasarkan dugaan tanpa adanya bukti yang akurat.
Mereka meminta agar setiap tuduhan didasarkan pada bukti fisik yang jelas dan tidak berujung pada vonis sepihak.










